Andrea Pompilio

Kisah di Balik Rancangan Onitsuka Tiger

  1. Beranda /
  2. Feature /
  3. AKTIVIS /
  4. Sabtu, 27 Oktober 2018 - 23:38 WIB

Andrea Pompilio di backstage peragaan busana Onitsuka Tiger di Okuma Auditorium, Tokyo/Istimewa
Andrea Pompilio di backstage peragaan busana Onitsuka Tiger di Okuma Auditorium, Tokyo
Foto: Istimewa

Pria asal Italia itu tampil lebih sederhana dibanding para wartawan. Ia mengenakan celana denim, baju putih yang bagian kerah lehernya sudah robek-robek, serta sneakers. Hal yang membuat penampilannya sedikit menonjol adalah brewok di wajahnya dan beberapa tato yang terlihat di tangan dan dadanya.

TOKOHKITA. Banyak desainer tampil eksentrik seperti busana yang dirancangnya. Namun Andrea Pompilio jauh dari kesan itu. Bahkan ia mengaku penampilannya sangat membosankan dan monoton. Dan begitulah yang kami temui saat mewawancarainya seusai fashion show koleksi musim semi dan panas 2019 brand Onitsuka Tiger di Tokyo.

Pria asal Italia itu tampil lebih sederhana dibanding para wartawan. Ia mengenakan celana denim, baju putih yang bagian kerah lehernya sudah robek-robek, serta sneakers. Hal yang membuat penampilannya sedikit menonjol adalah brewok di wajahnya dan beberapa tato yang terlihat di tangan dan dadanya.

"Bisa dibilang tampilan saya sangat basic, simpel, dan bahkan seolah selalu memakai seragam yang sama, yaitu baju, denim, dan sneakers warna putih atau biru," jawab Andrea saat ditanya mengenai penampilannya. "Tapi saya suka "bermain" dengan jaket dan aksesoris, kaus kaki, underwear, dan hal-hal yang tidak dilihat orang," paparnya. Rupanya kesukaan pada sesuatu yang simpel dan praktis ini mempengaruhi rancangan koleksi Onitsuka Tiger yang diperagakan dalam fashion show di Okuma Auditorium di Tokyo, Senin petang lalu.

 Rancangannya bukanlah sesuatu yang sulit dipakai sehari-hari seperti yang sering kita lihat di panggung-panggung catwalk dan pegelaran busana dunia. Sebaliknya, ia mengutamakan kenyamanan dalam merancang busana streetwear-nya, dengan pilihan bahan dan warna yang menarik namun tidak berlebihan. Tetap menonjol namun tidak norak.

"Menciptakan pakaian yang bisa dikenakan adalah tujuan utama saya," ujar Andrea. Maka rancangan untuk celana, kemeja, kaos, hoodie, jaket, dan jumpsuitnya pun lebih banyak bermain dalam kombinasi bahan dan warna, serta gambar dan pola. "Hal utama dalam desain saya adalah energi. Saya ingin memberikan energi yang baik, sesuatu yang positif, sekaligus kebebasan untuk mengekspresikan diri," katanya.

Andrea sendiri mengaku mendapat banyak inspirasi dari orang-orang dan hal-hal yang ia temui selama traveling. Hal itu terungkap saat ditanya siapakah tokoh yang paling mempengaruhi karyanya. Mendapat pertanyaan itu Andrea berhenti sejenak dan berpikir. Lalu menjawab: "Saya tidak punya tokoh khusus yang jadi panutan, tapi saya suka mengamati orang-orang dan suka traveling, jadi banyak sekali emosi dan masukan yang saya peroleh dari perjalanan."

Menurutnya traveling menjadi inspirasi terbesar baginya, meskipun desain tetap datang dari dalam diri. "Saya seperti spons yang selalu menyerap apapun dari sekitar. Bahkan saat kita bicara pun, saya menyerap sesuatu dari kamu, seperti ide atau gagasan," lanjutnya. "Tapi apa yang saya serap itu tidak saya implementasikan mentah-mentah. Selalu ada tambahan, sentuhan, penyesuaian, dan memasukkan emosi yang tepat." Timur dan barat, klasik dan modern Andrea lahir di Italia tahun 1973.

Ayahnya seorang arsitek, ibunya pelukis, dan neneknya memiliki butik pakaian. Ia mengaku memiliki masa kecil yang menyenangkan dan selalu suka bermain, termasuk ke butik neneknya. Hal itu membuatnya menyukai fesyen bahkan sejak usia 5 tahun. Setelah belajar fesyen di universitas seni di Pesaro dan Istituto Marangoni di Milan, ia mulai mengumpulkan pengalaman kerja di beberapa brand ternama, dan pada tahun 2011 ia sudah memiliki brand atas namanya sendiri. "Hidup saya sebenarnya dimulai pada usia 18 tahun saat saya meninggalkan rumah. Saya ingat bagaimana saya pindah ke Milan dan mulai berkarya," ceritanya.

Adapun perkenalannya dengan Onitsuka Tiger adalah sesuatu yang tidak disangka-sangka, bahkan aneh karena saat itu ia sudah memiliki karya dengan namanya sendiri. "Waktu itu ada orang yang ingin memamerkan koleksi saya ke Jepang. Saya sendiri tidak bisa datang, tapi saya sampaikan saya sudah mendesain beberapa sneakers yang bisa dipakai," paparnya.

Belakangan, Andrea justru diundang makan siang bersama CEO Onitsuka Tiger, yang sudah melihat karyanya lewat online. Dari situlah tawaran kerjasama muncul. Andrea merasa tertarik karena Onitsuka memiliki sejarah dan cerita yang unik. Perusahaan itu didirikan setelah Perang Dunia II.

Saat itu veteran perang Kihachiro Onitsuka membangun pabrik karena bertekad memberi semangat pemuda Jepang agar bangkit dan giat berolahraga setelah kalah dalam peperangan. "Saya selalu suka bekerja dengan perusahaan yang memiliki sejarah dan cerita, dan itu sangat penting bagi saya. Saya tidak pernah bekerja dengan brand yang baru muncul kemarin," ujar Andrea.

Menurutnya sejarah besar yang dimiliki Onitsuka membuatnya tertantang, sekaligus memberinya tekanan. "Dan saat saya ditantang dengan target yang tinggi, maka saya selalu melakukan yang terbaik dan menghasilkan karya-karya terbaik," lanjutnya. Lalu bagaimana perancang Italia ini mendesain untuk brand yang kental dengan gaya klasik Jepangnya? "Yang saya lakukan adalah mengambil rancangan dan ikon historis dari Onitsuka dan mencoba membuatnya kontemporer, lalu memasukkan visi saya ke dalamnya. Tentu ada sentuhan gaya Italia juga karena saya besar dan belajar di sana," lanjut Andrea.

"Kombinasi itulah yang kita lihat dalam koleksi ini (spring/summer 2019). Tapi itu semua terjadi secara otomatis, bukan saya sengaja memadukan gaya Eropa dengan Asia, tapi muncul begitu saja dalam desain." Memang fashion show malam sebelumnya terasa bergaya Eropa. Tata panggung, gerakan model, dan gayanya semua serba dinamis, cepat, dan penuh energi. Praktis acara utama peragaan hanya berlangsung sekitar 15 menit saja. "Kalau di Asia biasanya hanya ada sedikit model, bahkan kadang hanya 10 model dan semua berjalan lambat. Sedangkan energi yang saya bawa kemarin adalah gaya Eropa," paparnya.

Adapun bagi perancang ini, yang lebih menantang sebenarnya bukan soal memadukan gaya timur dan barat dalam karyanya, karena setelah bekerja bersama Onitsuka hampir 6 tahun, "rasa" itu sudah ada dalam dirinya. "Tantangannya selalu soal memberi sesuatu yang baru sekaligus memberi energi pada pemakainya. Ini tentang energi dan lifestyle. Ini bukan sekedar busana yang sekedar tampak bagus, tapi juga nyaman dipakai." "Semua desain pertama-tama harus membuat saya senang dan bersemangat, dan saya akan makin senang bila orang lain juga suka," ujarnya.

Melalui kombinasi material, gambar, dan pola, Andrea Pompilio mencoba mengekspresikan masyarakat global yang multikultural dalam desain koleksinya. "Ini adalah gambaran masyarakat yang tidak tersekat-sekat, tidak memandang jenis kelamin, di mana manusia menghargai perbedaan dan merayakan berbagai bentuk kasih sayang."

Sumber: Kompas.com

Editor: Admin

TERKAIT