Pengelolaan Sampah Berbasis Ekonomi dan Budaya

Pradi, Babeh Idin dan Hutan Kota Sangga Buana

  1. Beranda /
  2. Kabar /
  3. Daerah /
  4. Senin, 28 September 2020 - 17:35 WIB

Pradi dan Babeh Idin/Istimewa
Pradi dan Babeh Idin
Foto: Istimewa

Di bantaran Kali Pesanggrahan tersebut terasa benar-benar di hutan. Sebab, banyak pohon-pohon langka yang besar dan tinggi. Kemudian juga rumpunan pohon bambu menambah hutan kota tersebut sejuk, tenang, dan indah.

TOKOHKITA. Pradi Supriatna takjub dengan Hutan Kota Sangga Buana yang dirintis oleh H Chaerudin, yang akrab disapa Babeh Idin. Bagaimana tak takjub, berada di kawasan tersebut seolah-olah tak merasa berada di Kota Jakarta yang dikenal panas dan banyak hutan betonnya.

Di bantaran Kali Pesanggrahan tersebut terasa benar-benar di hutan. Sebab, banyak pohon-pohon langka yang besar dan tinggi. Kemudian juga rumpunan pohon bambu menambah hutan kota tersebut sejuk, tenang, dan indah. Ditambah lagi Kali Pesanggrahan yang bersih membuat betah berlama-lama di hutan kota yang berlokasi di Jalan Karang Tengah Raya, Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan itu.

Anehnya, di hutan tersebut terdapat pengolahaan sampah, namun bau sampahnya tak tercium. Bang Idin mengelola sampah tersebut dengan cara dibakar pada sebuah tungku besar dan tertutup atau dapat disebut incinerator. Padahal setiap harinya alat incinerator tersebut membakar sampah dalam jumlah banyak. Sebab, setiap harinya datang 10 truk mengangkut sampah dariĀ  dari Kali Pesanggrahan, Kali Krukut, dan Sungai Ciliwung.

Meski dibakar asapnya sedikit dan tak menyesakkan pernafasan. Sebab, asap tersebut telah direduksi oleh rumpunan pohon bambu yang tinggi menjulang. "Metode pengolahan sampah ini tidak diakui oleh Wali Kota Depok saat ini, namun di Jerman diakui. Kenapa tidak bau dan asapnya tidak menyesakkan nafas, karena di hutan kota ini banyak tumbuh rumpunan pohon bambu," kata Babeh Idin, Senin (28/9/2020).

"Pohon bambu memiliki banyak fungsi. Pohon bambu mampu menyerap racun-racun di tanah. Begitu juga dengan daun-daunnya menyerap racun di udara," tambahnya. Pradi yang turun ke lokasi dengan mengenakan baju batik, celana bahan berwarna coklat, dan sepatu sneakers berdecak kagum dengan kenyataan yang dilihatnya.

"Inilah tujuannya saya turun ke lapangan melihat secara langsung pengelolaan sampah. Jadi nantinya ke depan itu pengelolaan sampah berdasarkan masukan dari masyarakat, bukan keinginan pimpinan Kota Depok," ujar Pradi.

Menurut Pradi, ia telah memiliki program pengelolaan sampah. Baik itu untuk pengelolaan sampah jangka panjang dan jangka pendek. Sebab itu, pengelolaan sampah yang dilakukan Bang idin dapat menjadi inspirasi untuk mengelola bantaran sungai menjadi wisata biologi dan dipadu dengan pengelolaan sampah. Apalagi Kota Depok memiliki banyak situ.

Perlu diketahu bahwa Hutan Kota Sangga Buana seluas 120 hektare. Terdiri dari 42,8 hektare berada di wilayah DKI Jakarta dan sisanya berada di wilayah Depok dan Tangerang Selatan.

Selain konsep pengelolaan sampah Hutan Kota Sangga Buana yang ramah lingkungan, ternyata konsep tersebut membuat karyawannya mendapatkan gaji bulannya yang tergolong besar. Rata-rata setiap bulannya mendapatkan pemasukan Rp 7 juta per bulan. Gaji karyawannya Rp 5 juta plus insentif Rp 2 juta.

Mereka mendapatkan upah sebesar itu lantaran sampah tersebut ada yang dibuat pupuk. Kemudian juga sampah hasil pembakaran dijadikan campuran pupuk. Penasaran dengan hasil pengolahaan sampah, Bang Idin mengajak Pradi melihat lapangan futsal yang dibangun dengan memanfaatkan hasil sampah.

Bagian bawah lapangan futsal sintetis itu dilapisi sampah. Hasilnya luar biasa. Lapangan futsal tersebut laksana lapangan futsal bertaraf internasional. Pradi pun menjajal lapangan futsal tersebut. Calon Wali Kota Depok ini mencoba menaklukan Bang Idin sebagai kiper. Hanya dengan sekali tembakan keras ke pojok kanan atas gawang, Pradi berhasil menaklukan Bang iIin.

Memang, Pradi berkeinginan melanjutkan program pengelolaan sampah yang dilakukan Wali Kota Depok, Nur Mahmudi Ismail. Program pengelolaan sampah berupa Unit Pengelolaan Sampah (UPS) merupakan salah satu program pengelolaan sampah yang bagus.

UPS bila dimaksimalkan akan mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung. Tak hanya itu, program UPS tersebut ada turunannya yakni pemilahan sampah di rumah tangga dan kemudian bank sampah. "Program UPS itu bagus dan akan dilanjutkan. Tapi konsepnya akan diperbaharui," kata Pradi

Menurut Pradi, ia dan Afifah akan memperbanyak bank sampah di Kota Depok. Saat ini jumlah bank sampah di Depok ada 400 unit.

Program Pengelolaan Sampah Pradi-Afifah

1. Roadmap Depok Bersih 2035: Perencanaan pengelolaan sampah jangka panjang kota Depok untuk mengoptimalkan Manajemen Pengelolaan Sampah Terpadu.

2. Kurangi Sampah: Mempertahankan larangan pemakaian plastik sekali pakai danmembuat aturan-aturan lain untuk mengurangi produksi sampah kota.

3. Pilah Sampah: Penyediaan 3 jenis bak sampah di setiap RW untuk mendorong pemilahan sampah warga serta memberikan insentif ekonomi dan penghargaan bagi RW berprestasi.

4. Sampah Jadi Energi: Pembangunan fasilitas sampah jadi energi untuk mengurangi sampah terbuang ke TPA Cipayung.

5. Bank Sampah Berdaya: Mengaktifkan seluruh 400 bank sampah yang ada serta mendorong lebih banyak bank sampah baru.

6. Unit Pengolahan Sampah (UPS) Modern: Revitalisasi UPS serta menambah UPS baru di sejumlah wilayah yang belum memiliki UPS.

Editor: Tokohkita

TERKAIT


TERPOPULER