Ini Siasat Aktivaku Agar Pekerja Informal Mudah Memiliki Rumah

  1. Beranda /
  2. Kabar /
  3. STARTUP /
  4. Rabu, 11 Maret 2020 - 09:43 WIB

Menurut Aidil, ada bidan yang membuka praktek mandiri di daerah. Mereka memiliki pendapatan bersih hingga mencapai Rp 40 juta bahkan ratusan juta per bulan. Salah satu permasalahannya adalah tidak memiliki pendapatan tetap karena mereka bekerja di sektor informal.

TOKOHKITA. Ricky Gandawijaya, Pendiri dan CEO Aktivaku mengatakan saat ini, setiap tahunnya ada sekitar 6,8 juta masyarakat Indonesia yang belum memiliki rumah. “Kami melihat ini menjadi peluang, sektor informal bukan tidak bisa mendapat akses pinjaman bank. Mereka mampu hanya saja dianggap belum ‘aman’ untuk pinjaman, padahal mereka punya penghasilan,” ujarnya.

Melalui AktivaHome, konsumen yang ingin memiliki rumah bisa menggunakan kredit instalment dari AktivaHome. Proses pinjaman AktivaHome jika seluruh dokumen yang dibutuhkan lengkap setidaknya 2 minggu prosesnya sudah selesai. “Bagi lender agar mereka dananya aman, untuk peminjam yang tidak bisa melanjutkan cicilan, pengembang akan buy back, dialihkan ke pembeli rumah lain dan asuransi,” tukas Ricky.

Sebelumnya, Aktivaku, perusahaan Peer to Peer Lending menyelenggarakan diskusi panel bertajuk Grow Your Money-Sense Digitally” dengan mengandeng Asosiasi Fintech Pendanaan Indonesia (AFPI) dalam upaya mendorong awareness peluang Investasialternatif pengembangan dana.  Acara ini merupakan kolaborasi antara Bank Mandiri, perusahaan aplikasi Monessa, dan Asosiasi Pengusaha Wirausahawan Properti Nusantara (Perwiranusa).

Dalam acara acara yang diselenggarakan pada 5 Maret 2020 lalu di salah satu resto di Jakarta, juga sekaligus peluncuran produk terbarunya, yaitu AktivaHome. Berbeda dengan pembiayaan perumahan pada umumnya. Aktivahome memberikan solusi bagi masyarakat dari sektor informal underserved namun memiliki installment capacity agar menjadi bankable dengan bantuan teknologi untuk proses analisa dari berbagai sisi kelayakan.

Aidil Akbar Madjid, perencana keuangan menyebutkan, di tengah pesatnya perkembangan digital, sayangnya kelas menengah Indonesia tidak paham pengelolaan keuangannya, belum tahu investasi, bahkan terlibat utang. “Parahnya lagi, banyak dari mereka menjadi korban investasi bodong. Jadi literasi keuangan kelas menengah Indonsia masih rendah. Perkembangan digital mendorong tumbuhnya berbagai aplikasi keuangan. Makanya saya juga kembangkan Moneesa, awalnya offline, sekarang menjadi online, menjadi personal assistant perencanaan keuangan digital,” terang Pendiri dan Chairman Moneesa.

Menurut Aidil, ada bidan yang membuka praktek mandiri di daerah. Mereka memiliki pendapatan bersih hingga mencapai Rp 40 juta bahkan ratusan juta per bulan. Salah satu permasalahannya adalah tidak memiliki pendapatan tetap karena mereka bekerja di sektor informal. Padahal, tidak sedikit pekerja informal yang memiliki pendapatan besar. Sebut saja pedagang, atlet, artis, bahkan para bidan.

Arief Suryo Handoko, pendiri Perwiranusa, menuturkan dari kesempatan memiliki rumah di Indonesia masih sangat rendah. Ia menyebut anggota pengembang asosiasi yang berada dibawah binaan Kementerian PUPR ini sekitar 1000 pengembang, 200 di antaranya pengembang yang aktif membangun 200 unit rumah per pengembang per tahun. "Walau ada target 1 juta perumahan rakyat dicanangkan pemerintah, sayangnya jutaan orang tidak bisa mendapatkan akses KPR, padahal mereka memiliki gaji atau pendapatan," terangya.

Rolland Setiawan Asisstant VP Retail Deposit Product&Solution Group Bank Mandiri mengakui bank memang harus memenuhi aturan yang ketat dalam memberikan pinjaman ke nasabah. “Fintech dengan keunggulan teknologi, memperluas akses pinjaman, dengan lebih mudah. Bukan tidak ada bidang yang tidak kami biayai pinjamannya, tapi memang banyak dari mereka ditolak pengajuan pinjamannya, karena tidak tercatat pendapatannya,” ungkapnya.

Editor: Tokohkita

TERKAIT


TERPOPULER