Daya saing SDM hambat pengusaan PostgreSQL di Indonesia

  1. Beranda /
  2. Kabar /
  3. Teknologi /
  4. Selasa, 10 September 2019 - 06:47 WIB

Serangkaian topik menarik yang terbagi ke dalam 30 sesi akan dipaparkan seputar implementasi dan dampak PostgreSQL di dunia bisnis.

TOKOHKITA. PGConf.ASIA 2019, konferensi tingkat dunia tentang seluruh aspek software database Open Source PostgreSQL, yang seyogianya dibuka oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, secara resmi dibuka oleh Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, hari ini. Konferensi internasional yang untuk pertama kalinya digelar di Indonesia ini mengusung tema “Saat Bisnis Bertemu Hacker” dan berlangsung mulai 9-11 September 2019 di Grand Inna Bali Beach, Denpasar, Bali.

Serangkaian topik menarik yang terbagi ke dalam 30 sesi akan dipaparkan seputar implementasi dan dampak PostgreSQL di dunia bisnis. Pemerintah pusat melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika turut menyambut baik perhelatan PGConf.ASIA 2019 dan menyampaikan dukungannya. “Pemerintah akan mendorong pengembangan aplikasi berbasis open source. Ada perusahaan seperti Bank BRI yang secara masif menggunakan open source. Namun demikian, pengembangan open source harus senantiasa didorong dan dipromosikan bersama baik itu oleh pemerintah, korporasi, NGO atau organisasi manapun yang ingin mengembangkan sistem database berdasarkan PostgreSQL,” kata Rudiantara dalam sambutannya yang disiarkan melalui rekaman video.

Dia menambahkan, open source membebaskan ketergantungan terhadap merek dan software berbayar (proprietary) sehingga menawarkan kemandirian dan biaya lebih murah. Menurut Rudiantara atau yang biasa disebut Chief RA, pemerintah selalu memerhatikan pengembangan PostgreSQL. “Pada tahun ’80-an, kita mengenal yang namanya SQL (Structured Query Language), saya juga menjadi bagian daripada itu di tahun ’80-an akhir. Saya pernah bekerja untuk Oracle yang mengembangkan SQL, kemudian berkembang-berkembang terus, (kemudian muncul) Ingres, pada akhirnya PostgreSQL yang kita kenal saat ini,” kata Chief RA.

PostgreSQL yang menggunakan logo gajah tentunya memiliki karakteristik yang ramah, mudah berinteraksi dengan lainnya, dan memiliki ingatan jangka panjang. Chief RA berharap komunitas PostgreSQL turut memiliki sifat-sifat gajah dan kian meningkatkan pengembangan aplikasi di Indonesia. “Sekali lagi saya ucapkan selamat berkonferensi di Bali kepada komunitas PostgreSQL. Semoga sukses,” tutup Rudiantara.

Pada kesempatan yang sama, Tjokorda menuturkan, Pemerintah Provinsi Bali menyambut baik perhelatan PGConf.ASIA 2019 untuk mendukung kemajuan perkembangan software open source di sektor bisnis. Didukung oleh komunitas yang aktif dan loyal, software open source mampu berinovasi dengan cepat, sehingga meningkatkan fleksibilitas dalam menjalankan roda usaha,” terangnya dalam sambutan pembukaan acara konferensi tersebut. Lebih lanjut, Tjok Ace berharap, PGConf.ASIA 2019 dapat berkontribusi terhadap peningkatan sumber daya manusia di bidang teknologi informasi di Bali khususnya dan seluruh Indonesia pada umumnya untuk mencapai potensi ekonomi digital seperti yang ditargetkan oleh pemerintah.

Adapun salah satu tantangan Indonesia menyambut Revolusi Industri 4.0 adalah kesiapan sumber daya manusia di bidang teknologi informasi yang dirasa belum memadai baik secara kuantitas maupun kualitas untuk mencapai potensi ekonomi digital sebesar US$150 miliar pada 2025 . Berdasarkan data keluaran Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Pembangunan Teknologi Informasi dan Komunikasi (IP-TIK) nasional 2017 masih rendah yakni di level 4,99 dari skala 1-10.  

Sedangkan di tingkat global, Indonesia berada di urutan ke-45 dari 140 negara atau ke-4 di wilayah Asia Tenggara di dalam daftar The Global Competitiveness Report 2018 keluaran World Economic Forum.  Di sisi wirausaha, Indonesia disebutkan baru memiliki pengusaha sebanyak 1,65?ri populasi jumlah penduduk dan diperkirakan hanya sekitar 0,43% di antaranya berbasis teknologi atau technopreneur. Menurut ICT Development Index 2017 , Indonesia berada di peringkat 111 dari 176 negara.

Sementara menurut perusahaan riset A.T. Kearney, sektor pendidikan di Indonesia hanya mampu menghasilkan 278 insinyur TI dari setiap 1 juta penduduk. Angka lulusan tersebut jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan Malaysia yang mencetak 1834 insinyur TI dan India yang mencetak 1159 insinyur TI dari setiap 1 juta penduduk. Riset tersebut menyebutkan bahwa Indonesia membutuhkan 5 kali lebih banyak insinyur TI dalam 10 – 15 tahun ke depan untuk mendukung perkembangan ekonomi digital.

“Diperlukan pendidikan dan pelatihan yang tepat untuk mencetak sumber daya manusia yang berdaya saing di Revolusi Industri 4.0. Pemaparan beragam materi di dalam konferensi PGConf.ASIA 2019 akan memberikan peningkatan wawasan dan keahlian profesional bagi para peserta,” sebut Vice President Postgre Conference Asia 2019 Julyanto Sutandang. Sedangkan, konferensi ini digelar sebagai bagian dari bentuk tanggungjawab kami dalam membangun solusi dan ekosistem berkelas enterprise di pasar tanah air berbasiskan software open source.

Selain itu, seperti kebanyakan teknologi yang baru hadir, PostgreSQL tidak serta merta diadopsi secara luas dan membutuhkan waktu agar bisa diterima di tengah masyarakat bisnis negara berkembang. “Perlu dibangun sebuah ekosistem bisnis yang lebih baik bagi PostgreSQL agar bisa digunakan pada pasar lebih luas dan besar,” tukas Julyanto. Menurutnya, ketidaksiapan komponen bisnis membuat laju pengadopsian PostgreSQL tidak secepat harapan.

Seiring bertumbuhnya software open source di sektor bisnis, maka meningkat pula kebutuhan akan para ahli PostgreSQL. Perhelatan PGConf.ASIA 2019 di Indonesia, selain untuk melakukan interaksi antara hacker dan bisnis enterprise, diharapkan ekosistem PostgreSQL dan open source dapat bertumbuh di Indonesia. Yang tidak kalah penting adalah PGConf.ASIA 2019 dapat menguntungkan bisnis enterprise sebagai pasar dan akademisi yang menghasilkan sumber daya TI terbaik di tanah air.

Editor: Tokohkita

TERKAIT


TERPOPULER