Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka

Perangi Hoaks dengan Membudayakan Literasi Baca

  1. Beranda /
  2. Kiprah /
  3. Rabu, 12 Juni 2019 - 11:51 WIB

TBM Lentera Pustaka/Dokumen Pribadi
TBM Lentera Pustaka
Foto: Dokumen Pribadi

Hoaks itu terjadi akibat tingkat literasi rendah. Hal ini sesuai dengan data UNESCO yang melansir (2012) bahwa indeks minat baca di Indonesia hanya mencapai 0,001. Atau 1 dari 1.000 orang Indonesia yang punya minat baca.

TOKOHKITA. Pilpres telah usai. Tapi hoaks atau berita bohong masih saja ada. Patut diduga, hoaks terjadi akibat rendahnya budaya literasi orang Indonesia. Ketika budaya baca menurun, di situlah momentum untuk lebih percaya pada berita bohong.

Apalagi saat ini level masyarakat yang aktif memegang gawai tergolong sangat tinggi. Sekitar 4,5 jam sehari orang Indonesia menghabiskan waktu untuk berselancar di dunia maya atau di media sosial. Sadar tidak sadar, waktu selama itulah yang digunakan untuk mencari atau menyebarkan berita bohong atau hoaks.

Hoaks itu terjadi akibat tingkat literasi rendah. Hal ini sesuai dengan data UNESCO yang melansir (2012) bahwa indeks minat baca di Indonesia hanya mencapai 0,001. Atau 1 dari 1.000 orang Indonesia yang punya minat baca. Bahkan dalam laporan UNESCO berjudul "The Social and Economic Impact of Literacy" (2010) disebutkan bahwa tingkat literasi yang rendah pun menjadi sebab tingginya angka putus sekolah dan pengangguran. Karena orang dengan tingkat literasi rendah sulit menjadi mandiri atau berdaya, dan punya ketergantungan yang besar.

Berangkat dari realitas itu, Syarifudin Yunus, Pendiri Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di Kaki Gunung Salak Bogor menyatakan, akan sulit bagi Indonesia untuk mencegah hoaks bahkan menurunkan angka kemiskinan, kesenjangan sosial maupun rendahnya kualitas pendidikan bila tidak diimbangi dengan meningkatkan budaya literasi anak dan masyarakat. Maka di situlah pentingnya meningkatkan tradisi baca dan budaya literasi anak-anak dan masyarakat Indonesia.

Skenario tingkat literasi sederhana saja. Bila tradisi baca dan budaya literasi tinggi, maka pengetahuan dan wawasan meningkat. Pada saat yang sama kesadaran akan pentingnya menyaring informasi dan keterampilan komunikasi bisa lebih baik. Bahkan budaya literasi pun dapat meningkatkan kualitas kosakata yang lebih baik dan bijak.

Kebiasaan membaca yang baik adalah modal dasar tumbuhnya rasa percaya diri sehingga mampu mengembangkan imajinasi dan kreativitas dalam berbagai ranah kehidupan. Maka jelas, tingkat literasi yang tinggi menjadi pangkal utama persoalan kehidupan, termasuk untuk mencegah hoaks.

“Hoaks itu musuh kolektif dalam informasi. Maka untuk melawannya dibutuhkan tingkat budaya literasi masyarakat yang lebih baik. Karena itu solusinya, semua pihak harus peduli pada budaya membaca dan menulis. Agar tiap informasi bisa disaring dan diposisikan untuk tujuanapa”ujar Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka, kepada Tokohkita, Rabu (12/6/2019).

Oleh karena itu, sebagai upaya menumbuhkan tradisi baca dan budaya literasi anak-anak, TBM Lentera Pustaka terus fokus memberikan kemudahan akses bacaan bagi anak-anak usia sekolah di Desa Sukaluyu Kec. Tamansari kab. Bogor. Bahkan selama bulan Ramadhan 1440 H, jam baca lebih dioptimalkan melalui program "Ngabuburit Baca" di sore hari jelang waktu berbuka puasa. Hal ini sekaligus untuk "melawan" kebiasaan menonton TV atau main gawai yang berlebihan. Agar anak-anak, selalu punya waktu cukup untuk membaca buku.

Syarifudin menjelaskan, sejak didirikan dua tahun lalu, sekitar 60 anak pembaca aktif TBM Lentera Pustaka saat ini telah mampu "melahap" 5-10 buku bacaan per minggu. Dengan mengusung konsep "TBM-Edutainment", taman bacaan ini memadukan prinsip edukasi dan entertainment pada setiap kegiatan membaca, seperti: senam literasi sebelum baca, salam literasi, membaca dengan bersuara, dan lab baca di alam terbuka.

"TBM Edutainment diterapkan Taman Bacaan Lentera Pustaka agar menjadikan kegiatan membaca lebih menyenangkan buat anak-anak. Membaca jangan dibikin bosan. Tapi harus dikemas lebih menarik. Sehingga, anak-anak lebih bersemangat," ungkap Syarifudin.

Akses bacaan yang mudah dan optimalkan jam baca, itulah fokus TBM Lentera Pustaka. Karena tanpa baca, anak-anak akan merana di masa depan. Jauhnya anak-anak dari buku, sungguh akan menjadi momok yang terus melanggengkan hoaks, kebodohan dan kemiskinan. Apalagi di tengah gempuran era digital, jam baca anak-anak mau tidak mau gharus dioptimalkan.

Karena hanya dengan tradisi baca dan budaya literasi, kita dapat menyiapkan masa depan anak-anak dan mengusir hoaks secara lebih fundamental. "Akhirnya, melalui kegiatan membaca dan buku, TBM Lentera Pustaka bertekad tidak ada lagi anak yang putus sekolah, sehingga tercapai ketuntasan belajar hingga jenjang SMA," harap Syarifudin. Salam Literasi.

Editor: Tokohkita

TERKAIT