Rosaline Chow Koo, Pendiri & CEO CXA Group

Inspirasi Bagi Kaum Perempuan

  1. Beranda /
  2. Kiprah /
  3. Selasa, 26 Maret 2019 - 14:19 WIB

Rosaline Chow Koo/Istimewa
Rosaline Chow Koo
Foto: Istimewa

Awal tahun 2019 ini, Rosaline dinobatkan sebagai pemimpin yang masuk jajaran Top 10 Insurtech Leaders in Asia versi Insurtech Asia Association, yang diseleksi dari 215 kandidat berdasarkan combination of impact, influence and potential.

TOKOHKITA.Rosaline Chow Koo adalah salah satu wanita papan atas di bidang teknologi dan data. Ia merupakan pendiri dan Chief Executive Officer( CEO) dari CXA Group. Awal tahun 2019 ini, Rosaline dinobatkan sebagai pemimpin yang masuk jajaran Top 10 Insurtech Leaders in Asia versi  Insurtech Asia Association, yang diseleksi  dari 215 kandidat berdasarkan combination of impact, influence and potential. 

Akhir tahun 2018 lalu, perempuan jebolan Columbia Business School meraih penghargaan InsurTech of the Year pada Asia Insurance Industry Awards. Sejatinya, sebagai seorang perempuan, pencapaian karier profesional  Rosaline tidaklah mudah. Untuk bisa sejajar dengan CEO dalam Top 10 Insurtech Leaders in Asia seperti  Walter de Oude, Founder & CEO of Singapore Life, Robert Collins, CEO Crossborder dan David Cabral, COO Peak Re dari Hong Kong, tidak semudah membalikan telapak tangan.

Tapi keberhasilan itu membutuhkan kerja keras, ulet, dan ketekunan yang akhirnya terbayar dengan prestasi membanggakan. Naman Rosaline tercatat dalam daftar Top 100 Women in Fintech yang dirilis Lattice80, perusahaan hub fintech terbesar di dunia.

Rosaline mengatakan, banyak tentang-tantangan yang ia hadapi sebagai wanita selama karier profesional dan bisnisnya. “Prempuan harus bekerja dua kali lebih keras dari laki-laki untuk dianggap sama baiknya,” katanya dalam sebuah sesi wawancara dengan The Actuaries. “Earning your respect is so key to becoming a good leader,” sahut Rosaline.

Menurut dia, bagi seorang wanita untuk mendapat pengakuan sebagai pemimpin yang baik untuk eraihnya tak berbeda dengan yang dilakukan seorang laki-laki. “Tetapi lebih sulit bagi wanita,” akunya.  Hal itu bukan tanpa alasan. Sebab pada umumnya kaum hawa cenderung meremehkan potensi dan kemampuan mereka sendiri. Banyak yang menahan diri dari mengambil pekerjaan lebih keras. Mereka  lebih merasa aman ketika berada di zona nyaman. “Sementara pria akan melamar untuk peran yang menantang meski tidak sepenuhya bisa memenuhi persyaratannya,” ungkap perempuan berusia 57 tahun ini.

Memang, dalam perjalanan karier dan hidupnya, Rosaline memiliki kisah sangat luar biasa yang bisa memberikan inspirasi, terutama bagi kaum wanita. Dimulai dari kisah hidupnya, Rosaline dibesarkan di keluarga imigran miskin di South Central LA, selama Kerusuhan Watts. Iinilah awal perjalanan hidupnya yang membantu Rosaline mengembangkan keterampilan bertahan hidup dan etika kerja yang kuat sejak dini.

Dengan tekad dan kerja keras yang gigih, Rosaline berhasil mendapatkan gelar Cybernetics di UCLA dan MBA dari Columbia University. Kariernya dimulai dari mengawasi lini produksi di pabrik pasta gigi Procter & Gamble (P&G) di negara bagian Iowa,  Amerika Serikat. Selama bekerja di P&G, dia memotong siklus produksi dari tiga bulan menjadi hanya tiga hari. Sebagai manajer muda, wanita dari latar belakang Asia yang bekerja di lingkungan berkulit putih, dan didominasi pria, Rosaline juga berkontribusi terhadap perubahan budaya tempat kerja.

Ia pindah ke Singapura pada tahun 1996, ketika suaminya menjadi kepala Asia untuk sebuah perusahaan konsultan manajemen global, dan menjalani cuti panjang selama tiga setengah tahun. Masa itu ia habiskan untuk merawat anak-anaknya. Pada tahun 1999, ia kembali memasuki tempat kerja, mendorong start-up Asia dengan Bain Capital, di mana ia mengumpulkan $35 juta dan mendirikan e-bisnis - agen outsourcing penggajian pan-regional pertama di Asia.

Dia kemudian membawa pengalamannya ke ACE Insurance, membangun bisnis pemasaran di tempat kerja yang membantu menghilangkan perantara, dan kemudian disewa oleh Mercer Marsh Benefits untuk mengelola 14 negara mereka di wilayah Asia Pasifik. Selama delapan tahun bekerja di perusahaan pialang asuransi, Rosaline membangun tunjangan yang fleksibel dan mandat pialang regional, mengelola konflik internal antara perusahaan sejenis dan membantu membangun praktik di Asia Pasifik. "Karena kami bekerja sangat keras, kami tumbuh 800%, menjadi sekitar satu miliar dolar dalam premi," tukasnya.

Saat berada di Mercer, Rosaline mendengar klien mengeluh bahwa broker menambahkan sedikit nilai, dan mencoba meyakinkan majikannya untuk berinvestasi dalam teknologi yang dapat menambah nilai bagi klien. Dia ingin menyelesaikan masalah seperti kenaikan premi dan penggantian cepat tanpa kertas, dan untuk mengeksplorasi bagaimana manfaat yang disesuaikan dapat disediakan untuk tempat kerja,  di mana generasi yang berbeda dicakup oleh program asuransi 'satu ukuran untuk semua'.

Lantaran idenya tidak digubris, akhirnya ia memutuskan keluar dari Mercer pada tahun 2013 dan merintis pendirian Connexions Asia (CXA) bermodal sebesar $ 5 juta, dan meminjam $ 5 juta lebih. CXA merupakan  startup teknologi yang membawa layanan kesehatan berbasis teknologi untuk perusahaan perusahaan.  Tujuannya, agar bisa  meningkatkan kesehatan karyawan dan mengendalikan biaya perawatan kesehatan yang sangat mahal. Seperti pribahasa, membawa payung sebelum hujan, artinya mencegah sakit lebih baik ketimbang mengobati.

CXA adalah perusahaan startup ketiga yang dirintis Rosaline.  CXA adalah gagasan dari pendiri yang tidak biasa. Rosaline bukan hanya pengusaha wanita yang langka, dia tumbuh miskin di Los Angeles dan memulai bisnis di usia 50-an.

Perusahaan ini sekarang melayani lebih dari 600 perusahaan dan lebih dari 400.000 karyawan di 20 negara. Baru baru ini, CXA  yang berbasis di Singapura dan mendapat dukung dari Co-Founder Facebook Eduardo Saverin, berhasil mengumpulkan $ 25 juta dengan menjual utang konversi kepada investor baru termasuk HSBC Holdings Plc saat ekspansi di Asia.

Investor lain termasuk di dalamnya, Singtel Innov8, MDI Ventures Telkom Indonesia, Sumitomo Corp Equity Asia, Muang Thai Fuchsia Ventures, Humanica Pcl dan Heritas Venture Fund. CXA telah mengumpulkan $ 33 juta dari dua putaran pembiayaan sebelumnya. “Investor strategis ini juga datang sebagai klien sehingga saya bisa tumbuh bersama mereka.  Ini memberi kami ekspansi dan pertumbuhan besar. Dalam waktu satu tahun, kita akan mendapat untung, "katanya seperti dilansir dari Bloomberg.

Rosaline merekrut tim kelas dunia untuk membangun platform manfaat dan kesehatan e-commerce pertama di Asia dan mengambil alih salah satu perusahaan asuransi manfaat karyawan di Singapura. Disini membuktikan bahwa Rosaline bukan orang yang mudah menyerah.

Dengan jelas, Rosaline melihat peluang dan manfaat teknologi yang dapat dibawa ke perusahan perusahaan di Asia, di mana penyakit kronis menyerang 10 tahun lebih cepat ke Asia dibanding ke negara barat. Di tambah lagi pola hidup orang-orang Asia dan jenis makan yang dikonsumsi lebih banyak karbohidrat, gula dan minyak, dimana kemungkinan penyakit kronis lebih besar menyerang. Para pengusaha Asia tidak bisa mempertahankan kenaikan premi tahunan, maka dengan semua permasalahan ini mereka harus mencari akar penyebab masalah kesehatan karyawan mereka. Harapannya, bagaimana bisa menekan premi yang terus meningkat setiap tahunnya. Disinilah peluang besar yang dilihat Rosaline untuk ekspansi bisnis ke Asia.

CXA dengan platformnya berusaha memecahkan peningkatan biaya pengobatan  kesehatan dengan memanfaat kan teknologi dan data, yang mana salah satunya adalah mengalihkan uang pengobatan menjadi pencegahan untuk meningkatkan kesehatan karyawan. Platform ini selalu berkembang semakin dalam untuk bisa mengatasi kompleksitas ekosistem kesehatan karyawan. Pada akhirnya bisa membantu perusahaan-perusahaan di Asia ataupun global untuk dapat menekan kenaikan premi kesehatan dan meningkatkan kesehatan para pekerka di dalamnya. Dengan demikian, mampu memacu kinerja dan produktivitas karyawan yang akhirnya meningkatkan performa setiap perusahaan.

Saat ini, CXA telah tumbuh menjadi perusahaan bernilai $ 100 juta.Targetnya, dalam tiga sampai lima tahun ke depan, CXA memilili valuasi $ 1 miliar atau lebih sehingga berhak meraih predikat startup unicorn. Pada tahun 2018, CXA mulai memasuki pasar Indonesia. CXA berkomitmen memberikan solusi kepada perusahaan-perusahaan di Indonesia untuk mengubah pengeluaran perawatan kesehatan saat ini dari pengobatan menjadi program manfaat dan kesejahteraan, seperti yang sudah dijalankan CXA dengan perusahaan di negara-negara di Asia lainnya.

Editor: Tokohkita

TERKAIT