Miftah Sunandar

Bang Haji Miftah, Antara Bisnis dan Ikhtiar Politik

  1. Beranda /
  2. Parlemen Kita /
  3. Sabtu, 19 Januari 2019 - 02:01 WIB

Miftah Sunandar/Tokohkita
Miftah Sunandar
Foto: Tokohkita

Dari bisnis properti inilah yang mengantarkan Miftah menduduki jabatan Ketua Kadin Kota Depok sejak 2016 silam. Masih tersisa masa jabatan kepengurusan Kadin yang akan berakhir pada 2020 mendatang. Selama menakhodai Kadin, ia konsen dalam pengembangan UKM

TOKOHKITA. Nama Miftah Sunandar sudah tidak asing lagi di kalangan pengusaha di Kota Depok. Maklum, Miftah lumayan lama bergelut di dunia bisnis terutama properti. Pemilik PT Miftah Putra Mandiri terhitung cukup banyak membangun sejumlah perumahan. Berawal dari bisnis properti inilah yang mengantarkan Miftah menduduki jabatan Ketua Kadin Kota Depok sejak 2016 silam. Kini, masih tersisa masa jabatan kepengurusan di Kadin Kota yang akan berakhir pada 2020 mendatang.

Selama menakhodai Kadin, ia konsen dalam pengembangan UKM. Pasalnya, Depok ini dikenal sebagai kota niaga dan jasa, karena tidak memiliki industri sekala besar apalagi sektor pertambangan. Oleh karena itu, pengembangan sektor UKM  juga menjadi prioritas utama kepengurusan Miftah di Kadin.

Persoalan lain yang mendapat perhatian Miftah adalah masih sisa lebih perhitungan anggaran (Silpa) di Depok yang semakin membesar dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini tentunya menjadi PR bagi Kadin untuk menyelesaikannya bersama Pemkot Depok. Pihaknya, juga terus dorong agar Pemkot Depok bisa menekan Silpa sehingga tidak terus membengkak.

Caranya, Pemkot Depok bersama Kadin Depok bergandengan tangan, duduk bersama, saling percaya dan bekerja dengan penuh tanggung jawab serta komitmen untuk kesejahteraan masyarakat Depok. Sebab, Silpa yang besar pada akhirnya akan merugikan masyarakat karena tidak optimal dimanfaatkan untuk pembangunan.

Dalam pandangan Miftah, salah satu penyebab tingginya Silpa adalah kegagalan dalam proses lelang. Ini juga tidak terlepas dari terlalu kehati-hatian dari pihak panitia lelang. Tapi itu juga wajar karena ada kekhawatiran proyek ujungnya bermasalah, atau bisa juga akibat perencanaan yang kurang matang. Faktor lainnya adalah masih banyak pengusaha lokal Depok yang ikut proses lelang tapi tidak memenuhi syarat dan kualifikasi. Tak ayal, banyak proyek dikerjakan oleh perusahaan dari luar Kota Depok. Tantangan inilah yang terus diupayakan Kadin Kota Depok untuk menyikapinya meski tidak mudah.

Di sisi lain, persoalan lingkungan di Kota Depok juga tidak bisa dianggap sebelah mata apalagi dengan pesatnya pembangunan infrastruktur transportasi dan pemukiman. Isu setu yang kondisinya semakin mengkhawatirkan akibat pendangkalan, pencemaran limbah rumah tangga dan industri hingga areanya terus menyempit lantaran terdesak kepentingan properti juga perlu mendapat penanganan yang komprehensif dan lintas sektoral.

Bertolak dari persoalan-persolan ini yang mendorong Miftah untuk mencoba mengambil peran lebih besar dan strategis. Pilihannya adalah melangkah jauh ke pentas politik yang tidak hanya tataran Depok tapi lingkup Jawa Barat, setelah mendapat amanah sebagai Ketua DPC Hanura Kota Depok untuk masa bakti periode 2015-2020. Kini, Miftah maju sebagai Caleg DPRD Provinsi Jawa Barat Dapil Depok-Bekasi dengan nomor urut dua dari Partai Hanura. “Saya ingin memperjuangkan aspirasi warga Depok di parlemen Provinsi Jawa Barat,” tukasnya saat berbincang dengan Tokohkita, Jumat (19/1/2019).

Menurut Miftah, ada tiga yang menjadi fungsi utama dan melekat sebagai anggota legislator, yakni pengawasan, legislasi, dan penganggaran. Bertolak dari tiga fungsi itulah, "Saya akan berusaha memperjuangkan penyelesaian masalah masalah tersebut dan tentunya dengan melibatkan semua stakeholder yang terkait,” tandas Bang Haji Miftah, biasa disapa pria yang selalu tampak ramah kepada siapapun.

Ya, ikhtiar politik Bang Haji Mifah masih terjal dan berliku, penuh tantangan untuk menuju kursi wakil rakyat di Kota Kembang, Bandung. Menjadi politikus memang berat. Tenaga, pikiran dan biaya terkuras dalam, itu konsekuensinya terjun ke dunia politik yang seperti hutan rimba. Menerkam atau diterkam, bila tak hati hati memasukinya. Tapi itu semua kembali ke pribadi masing-masing, apa yang mendasari keinginan berpolitik. "Saya ingin menjadi poitikus yang baik dan memberikan manfaat dan kemaslahatan bagi masyarakat," harap Miftah.

Tapi memang itu tidak mudah ketika berhadapan dengan situasi politik dan sistem yang belum benar-benar sehat. Itu sebabnya secara individua dan bersama-sama kudu memberikan pencerahan dan pendidikan politik yang baik. Yang terang, "Larut malam pun masih harus bercengkrama dengan warga. Enak jadi pengusaha sih, engak harus sampai beginian,” celetuk Miftah dengan raut muka masih digelayuti rasa kantuk. Tak apalah Bang Haji Miftah, itu kan investasi juga. Investasi politik!

Berawal dari bisnis

PT Miftah Putra Mandiri adalah perusahaan yang bergerak di bidangproperti. Perumahan Vila Putra Mandiri I, II, III, dan IV menjadi bukti kesuksesan perusahaan ini. Beberapa perumahan yang telah dibangun banyak diminati oleh banyak konsumen. Hal itu disebabkan karena PT Miftah Putra Mandiri sangat memperhatikan kualitas bangunan, kemudian juga model bangunan yang sangat menarik dengan harga yang relatif murah dibandingkan perumahan lainnya, menjadikan perumahan Vila Putra Mandiri semakin sulit untuk tersaingi dalam hal pemasaran dan kualitas rumah yang dipasarkan.

Kesuksesan membangun PT Miftah Putra Mandiri tak lepas dari tangan dingin sang pemilik perusahaan, Miftah Sunandar. Bisnis di bidang properti yang di rintis, berawal dengan membuka toko besi konstruksi dan bahan matrial yang di beri nama PD Putra Mandiri, berlokasi di Jalan .Kahfi II dan Tanah Baru, Depok. Keyakinannya pada bisnis property yang diprediksinya akan booming dalam waktu dekat mengantarkannya pada gerbang kesuksesan. Terbukti, setelah berjalan beberapa tahun, usahanya berkembang menjadi kontraktor rumah-rumah pribadi dengan berganti nama menjadi CV Putra Mandiri.

Perkenalannya dengan dunia bangunan membuatnya matang dengan pengalaman proyek dan berkenalan dengan para praktisi di bidang usaha kontraktor maupun developer. Kemudian tak lama berselang, niatnya untuk segera memulai bisnis properti terjawab dengan terwujudnya perumahan pertama yang dibangunnya dengan nama Perumahan Putra Mandiri dengan hanya beberapa unit. Setelah sukses memasarkannya hingga mampu menembus pasar, direktur yang telah memiliki satu anak ini, mulai mengembangkan bisnisnya dalam bidang developer.

Pada akhir tahun 2006, Miftah kembali membuat perumahan yang dinamakan “ Vila Putra Mandiri I “ sebanyak 8 unit yang berlokasi di Tanah Baru, Depok, dan dalam waktu 1(satu) minggu perumahan Vila Putra Mandiri tahap I habis terjual. Pada awal tahun 2007 beliau kembali membuktikan exsistensinya dalam bidang property dan developer dengan membuat perumahan “ Vila Putra Mandiri II “ sebanyak 13 unit rumah yang berlokasi di Tanah Baru, Depok, dan ternyata hanya dalam waktu satu bulan 13 unit habis terjual. Pemilihan lahan di kawasan tanah baru memang dianggap pilihan yang paling tepat. Menurut Miftah Sunandar lokasi tanah baru memang lokasi yang sangat strategis karena kawasan yang masih alami dan mudah terjangkau itulah yang menjadikan kawasan wilayah tanah baru menjadi pilihan yang paling tepat untuk sarana tepat tinggal.

Dalam waktu kurang dari satu tahun, Miftah kembali membangun Vila Putra Mandiri III&IV dengan jumlah keseluruhan 42 unit rumah,dan dalam waktu 2 bulan habis terjual. Dan bukti keseriusannya dalam bisnis properti semakin terbukti dengan dirubahnya nama CV. Putra Mandiri menjadi PT Miftah Putra Mandiri yang bergerak dalam bidang perdagangan besi konstruksi, general contractor dan developer. Dan pada pertengahan tahun 2008, Miftah telah berhasil membuat perumahan dengan nama Putra Mandiri Residence dengan konsep town house bergaya tropis modern yang lebih ekslusif.

Editor: Tokohkita

TERKAIT