Melodya Apriliana

Kaum Milenial: Kami Pilih Nurhadi-Aldo

  1. Beranda /
  2. Perspektif /
  3. Aktivis /
  4. Kamis, 17 Januari 2019 - 09:29 WIB

Melodya Apriliana/Tokohkita
Melodya Apriliana
Foto: Tokohkita

Kalau saya pribadi, jujur saja golput sih. Tapi kalapun harus memilih salah satu, aku akan memilih salah satunya.Tapi itu bukan karena mendukung dia, takut nanti namaku dibeli surat suaranya. Kedua, biar ada absennya kalau aku sudah mengisi daftar hadir. Akhirnya, cari yang mendingan dari yang satunya lagi.

TOKOHKITA. Pemilu2019 sebentar lagi akan berlangsung untuk memilih presiden-wakil presiden, wakil rakyat di parlemen dan senator. Para kandidat pun sudah menebar janji kampanye dengan berbagai aktivitas dan target kampanye. Kelompok milenials menjadi target kampanye yang disasar oleh para kandidat capres-cawapres, mengingat angkanya yang sangat besar dan sebagian besar diantaranya adalah swing voters.

Dari survei LIPI, ada sekitar 35%-40% pemilih dalam Pemilu 2019 didominasi generasi milenial, atau jumlahnya sekitar 80 juta dari 185 juta pemilih. Jumlah generasi milenial yang tidak sedikit itu menjadi modal penting untuk para politikus dalam Pemilu 2019. Kecenderungan pemilih milenial bersifat rasional dalam menentukan pilihannya. Alhasil, tim sukses paslon berlomba-lomba meraih simpati dan dukungan kaum milenial dengan berbagai cara.

Tapi apakah pesan-pesan atau program kerja yang diusung paslon ini sampai dan dipahami oleh kaum milenial? Kali ini, Tokohkita berbincang dengan salah satu anak muda yang terbilang kritis terhadap isu gender dan lingkungan hidup. Adalah Melodya Apriliana, mahasiswi tingkat akhir pada studi Antropologi Sosial, Universitas Indonesia (UI).  Di sela sela kesibukannya menyelesaikan skripsinya, mahasiswi berhijab ini sempat aktif di beberapa organisasi lingkungan seperti Greenpeace. Kini, Melodya diamanahi menjadi Digital Communication Madani Berkelanjutan, sebuah LSM yang konsen terhadap isu sosial dan lingkungan.

Kepada Tokohkita, ia mengutarakan kecemasan, kekecewaan dan keprihatinannya terhadap ruang diskursus politik menjelang Pipres 2019 yang tidak sehat dan tidak memberikan pendidikan poitik yang baik kepada anak muda atau kini lebih populer dengan sebutan generasi milenial. Berikut nukilan wawancaranya:

Apakah kamu memahami  konsep-konsep yang dibangun pasangan calon capres-cawapres sudah sesuai dengan ekspektasi kaum muda?

Saya kebetulan di bidangnya di lingkungan hidup. Akhirnya, topik ini yang mengawali aku mencari tahu dari kedua paslon yang mencalonkan diri ini, apa yang akan dilakukan khususnya untuk lingkungan. Apa konsep-konsep yang ditawarkan. Tapi yang muncul malah konsep-konsep gimmick aja. Misanya di visi-misi ada soal penegakan hukum, pemberantasan korupsi, tapi tidak pernah menyebutkan dalam kasusnya itu apa yang menjadi highlight mereka. Yang menjadi studi kasusnya apa sehingga menjadi program program yang diusung dalam visi-misi. Jadi kasusnya tak pernah kelihatan, apa dan sebenarya tujuan pembangunan yang disebutkan dalam visi misinya itu.

Jadi konsep apa yang diharapkan kaum milenial?

Katanya kami ini disebut-sebut generasi yang kritis, yang selalu mencari asal usul. Aku mengharapkan sesuatu yang spesifik, realistis, antara konsep dan praktiknya seimbang. Aku rasa konsep konsep yang diusung ini bisa dijelaskan secara logis. Ini mungkin hal yang diperukan bagi generasi milenia yang belum menentukan pilihan. Beda banget misalnya dengan pasangan calon presiden dan wakil presiden fiktif, Nurhadi-Aldo. Nurhadi-Aldo adalah pasangan calon presiden dan wakil presiden fiktif yang diciptakan oleh sekelompok anak muda yang merasa gerah dengan kampanye hitam di panggung politik Indonesia.

Lantas apa yang kamu tangkap dari paslon fiktif Nurhadi-Aldo?

Ya, beda aja dengan Nurhadi-Aldo yang dengan seslengean begitu, konsep dan program-programnya itu jelas mau ngapain. Di media sosial, banyak kampanye hitam saling menjelekkan. Masyarakat mulai terkotak-kotak, dan Nurhadi-Aldo hadir untuk meredam itu, untuk meredam konflik antarkubu.

Memang, banyak akun media sosial hanya berisi sampah, berita hoax, ungkapan kebencian dan permusuhan yang satu sama lain saling menjatuhkan. Perasaan kamu begaimana?

Pastinya kecewa banget. Kalau boleh digambarkan dengan satu kata, enek. Mual, pengen muntah,  kecewa banget. Tadinya aku pengen mengdeaktivasi akun akun medsos aku. Tapi karena banyak juga akun akun teman aku lainnya yang merasakan kegelisaan yang sama, akhirnya kita berkumpul dalam satu ruang diskusi yang lebih sehat.  Jadinya, kita enggak follow akun akun pasangan calon capres- cawapres dan para pendukungnya. Kami, generasi milenial yang mencoba kritis terkait isus-isu tertentu, sama sekali tidak tertarik dengan akun akun paslon karena ruang-ruang itu tidak sehat.

Di medsos, perang opini antara paslon sangat masif. Istilah-istilah nyinyir, kampret dan cebong sudah identik dengan perang opini ini. Kamu menilainya bagaimana?

Itu yang buat saya muak. Diskusinya sudah tidak substantif lagi, hanya nyampah saja. Bukan cermin pendidikan politik yang baik, malah buruk sekali. Justru yang menjadi pertanyaan aku adalah kenapa para elite di kedua paslon tidak memberikan pendidikan poitik yang baik buat para pendukung dan simpatisannya. Menyediakan  ruang yang sehat buat para cebong dan kampret. Karena ruang media sosial banyak diisi dengan hal –hal sampah tadi, itu tidak bagus untuk pedidikan politik bagi generasi muda. Akibatnya, kelompok milenial ini tak tertarik isu politik.

Tapi masih banyak anak muda yang tak peduli dengan urusan politik, malah mereka cenderung hedonis?

Menurut aku sih, justru teman teman yang hedon bisa jadi selow, cenderung tak peduli, masa bodo,  engkak mikiran politik. Bagi mereka, ada pemilu atau tidak ada, enggak mikirin itu.  Bagi aku dan teman yang berusaha kritis, melihat peristiwa apapun, politik atau bukan, tetap itu menjadi hal yang bersifat politis dan akan berdampak pada masa depan generasi milenial ke depannya.  Karena dari peristiwa politis ini tentua akan ada konsekuensinya nanti.  Tapi karena kondisi perpolitikan kita yang tidak sehat itu, aku kadang berpikiran, ya udah mendingan jadi  hedon saja seperti  teman teman kebanyakan lainnya , biar enggak pusing aja. Kadang, gitu mikirnya.

Lantas, bagaimana bisa mengajak anak muda yang hedon itu bisa tumbuh ketertarikan pada mereka sehingga peduli terhadap poitik?

Aku secara pribadi, suka menuangkan pandangan pandangan kritis di Istragam story, angkat kasus kasus sehari hari saja. Saya suka angkat isu gender dan lingkungan. Aku sering banget ngomongin soal gender misalnya, emang bener ya, kalau cewek yang udah sekolah tinggi tinggi tapi setelah menikah gelarnya tak kepake. Lewat Instragram story aku menjabarkan pandangan-pandangan soal isu gender tersebut. Akhirnya, dapat feed back. Kok, kamu mikirnya gituh sih. Jadi ada yang nanya balik, kan. Dari situ  jadi ada jembatan atau ruang diskusi baru.  Cuma, memang hal hal seperti ini belum banyak dilakukan oleh umumnya anak muda sekarang.

Kenapa bisa demikian?

Diskusi yang kritis di media sosia Ini yang belum banyak dilakukan oleh anak muda. Karena kebanyakan pandangan- pandangan kritis  anak muda hanya buat diri sendiri aja. Atau memang dia yang kritis ini ya, berteman dengan mereka yang berpandangan sama seperti dirinya, kritis juga. Nah bagaimana menjembatani agar teman teman muda ini lebih tertraik, kritis dan lebih peduli terhadap masalah masalah tersbut termasuk politik, itu memang butuh usaha-usaha yang sangat panjang p, tidak mudah. Dan aku emang belum sampai ke arah itu. Tapi paling enggak, kalau membaca oboral-obrolan dan joke joke recehan mereka di twetter itu sebenarnya adalah persoalan yang kita dihadapi, ekspresi politis juga, loh. Anak muda sekarang, narasinya itu males idup karena menghadapi kondisi kayak gini.

Maksudnya, keadaan seperti apa yang terjadi pada kebanyakan anak muda saat ini?

Ya, keadaan yang diharapkan kami sebagai anak muda tidak sesuai ekspektasi. Jadi yang muncul itu narasi-narasi yang malas hidup tadi. Makanya di Twetter modelannya seperrti ungkapan: aduh, anjir kuliah capek, pengen tidur terus. Padaha kalau caleg-caleg atau paslon-paslon bisa main ke ranah ranah itu, kan bisa melihat  bagaimana kekecewaan-kekecewaan anak muda terhadap kondisi yang mereka hadapi. Walapun memang apa yang mereka ekspresikan itu bukan dalam bentuk satu desakan khusus misalnya, pak tolong dong perbaikin atau murahin biaya pendidikan.  Kan, enggak harus seperti itu juga narasinya.

Apakah memang para elite politik, dari caleg hingga paslon tidak tahu persoalan generasi milenial, atau mereka memang tidak bisa memahami pola pikir anak muda sekarang?

Buatku, sebenarnya mereka, elite-elite politik ini sama tidak tertarik apalagi butuh generasi milenial. Karena ada momentum pemilu saja seolah-olah ingin dekat, peduli terhadap kondisi dan persoalan yang dihadapi anak muda. Padahal yang diincar itu hanya suaranya untuk kepentingan politik mereka. Mereka hanya memanfaatkan suara milenial supaya bisa terpilih dan berkuasa.

Jadi, sikap dan pilihan kamu saat pencoblosan nanti, apakah akan menentukan pilihan atau golput?

Kalau saya pribadi, jujur saja golput sih. Tapi kalaupun harus memilih salah satu, aku akan memilih salah satunya.Tapi  itu bukan karena mendukung dia. Ya, takut nanti namaku dibeli surat suaranya. Kedua, biar ada absennya juga kalau aku sudah mengisi daftar hadir. Akhirnya, cari yang mendinganlah dari yang satunya lagi. 

Editor: Tokohkita

TERKAIT