Sandiaga Uno

Ekonomi Maritim Berbasis Pulau Kecil dan Kota Pantai

  1. Beranda /
  2. Perspektif /
  3. Birokrat /
  4. Kamis, 10 Januari 2019 - 00:57 WIB

Sandiaga Uno/Istimewa
Sandiaga Uno
Foto: Istimewa

Tahun 2019 adalah penting bagi Indonesia karena akan menentukan pemimpin periode 2019-2025, baik presiden, anggota DPR pusat dan daerah serta anggota DPD. Siapapun pemimin Indonesia nanti, sudah seyogianya memiliki komitmen terhadap masa depan laut kita

Dengan wilayah laut yang luas tersebut, di dalamnya menyimpang potensi ekonomi kelautan (maritim) yang luar biasa besar. Setidaknya, ada 11 sektor ekonomi kelautan, yakni perikanan tangkap, perikanan budidaya, industri pengolahan hasil perikanan, dan industri bioteknologi kelautan. Kemudian, pertambangan dan energi, pariwisata bahari, hutan mangrove, perhubungan laut, sumberdaya wilayah pulau-pulau kecil, industri dan jasa maritim, serta SDA non-konvensional. 

Sayang, potensi ekonomi kelautan yang luar biasa besar hingga saat ini baru dimanfaatkan sekitar 25%.  Kontribusi sektor perikanan misalnya hanya 2,7% terhadap PDB, dan nilai ekspornya pun hanya sekitar US$ 4 miliar pada 2017. Sebagai perbandingan, Thailand dengan wilayah laut kurang dari 10?ri wilayah laut Indonesia, mampu mendulang devisa perikanan sekitar US$ 10 miliar pada 2017. Artinya,ruang untuk mengembangkan ekonomi maritim bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa itu masih terbuka lebar.

Di sisi lain, hak-hak masyarakat pesisir (nelayan, perempuan nelayan, pembudidaya ikan, petambak garam, pelestari ekosistem pesisir, masyarakat adat pesisir) masih banyak yang terabaikan. Pusat Data dan Informasi Kiara (2017) mencatat, jumlah desa pesisir di Indonesia sebanyak 12.827 desa dari 78.609 desa yang tersebar di seluruh Indonesia. setidaknya, ada 8.077.719 rumah tangga perikanan yang hidup dan mendiami kawasan desa pesisir serta menggantungkan kehidupannya terhadap aktivitas perikanan. Jika satu rumah tangga terdiri dari 3 orang, maka ada lebih dari 25 juta orang yang tinggal di kawasan pesisir dan menggantungkan kehidupannya terhadap aktivitas perikanan. Namun, jika satu rumah tangga terdiri dari 5 orang, maka ada lebih dari 40 juta orang yang tinggal di kawasan pesisir dan menggantungkan kehidupannya di sektor perikanan.

Tahun 2019 adalah penting bagi Indonesia karena akan menentukan pemimpin periode 2019-2025, baik presiden, anggota DPR pusat dan daerah serta anggota DPD. Siapapun pemimin Indonesia nanti, sudah seyogianya memiliki komitmen terhadap masa depan laut kita. Calon wakil presiden nomor urut 02, Sandiaga Uno yang berpasangan dengan Calon Presiden Prabowo Subianto memaparkan pandangannya tentang visi misi kemaritiman nanti, jika mendapat amanah memimpin bangsa Indonesia lima tahun ke depan kepada Tokohkita, baru baru ini. Berikut nukilannya:

Apa visi misi Anda terhadap sektor kelautan atau kemaritiman?

Salah satu program aksi ekonomi maritim kita adalah upaya membangun pusat pusat pertumbuhan ekonomi maritim berbasis pulau-pulau kecil dan kota kota pantai

Apakah isu lingkungan dan kelautan penting untuk diangkat sebagai bahan kampanye di pemilu 2019?

Satu dari tiga rakyat Indonesia menggantungkan hidup bekerja sebagai petani dan nelayan. Negara kita adalah negara agraris sekaligus negara maritim. Suatu keharusan bagi pemerintahan ke depan untuk memperhatikan nasib petani dan nelayan, diantaranya lewat penumbuhan kapasitas agro maritim kita. Upaya memperkuat sektor pertanian dan perikanan adalah fokus kami ke depan, karena berdampak ganda selain membuka lapangan kerja juga mengentaskan kemiskinan.

Apakah Anda memiliki program kerja terkait lingkungan dan kelautan?

Selain membangun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi maritim, kami melihat pentingnya upaya membangun konektivitas antar pusat-pusat pertumbuhan ekonomi pulau pulau kecil dan kota kota pantai. Mendorong produktivitas hasil hasil ekonomi kelautan untuk kesejahteraan masyarakat pesisir dan nelayan. Tidak kurang juga pentingnya membangun armada perikanan untuk melayani laut dalam Zona Ekonomi Eksklusif.

Bagaimana pandangan Anda mengenai pengelolaan laut yang berkelanjutan dengan memperhatikan daya  dukung dan daya tampung lingkungan, termasuk pengurangan penggunaan plastik dan pelarangan plastik sekali pakai?

Dalam program aksi kami, kami tegas mencantumkan pentingnya upaya mendorong penggunaan kantong plastik yang berbahan nabati, biodegradable dan ramah lingkungan.

Hak-hak nelayan kecil untuk mencari ikan secara berkelanjutan perlu dijamin, Anda setuju?

Saya bertemu dan mendapat keluhan Pak Nur Suud, salah satu nelayan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Puger. Saat masuk musim angin timur, terjadi kesulitan melaut dan hasil tangkap kecil, mereka sebut musim piring terbang. Musim ketika perabotan rumah tangga dijual untuk melanjutkan hidup. Kita ingin nasib nelayan terjamin, maka akan kita kembangkan Bank Tani dan nelayan, selain simpan pinjam juga membantu penghidupan nelayan di saat paceklik, misalnya mendapat pinjaman untuk membuka usaha.

Upaya upaya seperti apa yang bisa dilakukan untuk menghentikan segala bentuk kegiatan ilegal di laut, termasuk penangkapan ikan illegal dan perilaku merusak ekosistem laut Indonesia?

Pendidikan dan sosialisasi terus menerus pada nelayan dan masyarakat pesisir, penerapan insentif pada kepatuhan dan disinsentif termasuk penegakan hukum.

Pulau-pulau kecil Indonesia sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim, apa saja yang harus dilakukan?

Diawali upaya mendata dan memasukannya dalam peta maritim nasional, saat ini belum tersedia. Peta maritim ini amat penting untuk penegakan kedaulatan dan hukum laut, sekaligus merencanakan program pembangunan lingkungan kepulauan yang lebih tepat sasaran.

Bagaimana pandangan Anda untuk memajukan industri kelautan Indonesia?

Kemajuan industri kelautan menjadi target industrialisasi berbasis sumber daya lokal. Indonesia adalah salah satu negeri dengan garis pantai terpanjang di dunia, potensi melimpah maka dibutuhkan upaya ekstensif dan cerdas merealisasikan potensi maritim ini. Saya dan Pak Prabowo akan menumbuhkan infrastruktur yang menjangkau sentra kemaritiman, termasuk sarana prasaranan kelautan terutama tempat pelelangan ikan dan pasar ikan rakyat. Selanjutnya akan membuka industri pengolahan dengan melibatkan dunia usaha dan investor mancanegara untuk mengembangkan produk laut berorientasi ekspor. Terakhir, adalah meningkatkan konsumsi protein, bagi anak dan generasi muda. Sekaligus menumbuhkan industri kreatif kuliner maritim.

Editor: Tokohkita

TERKAIT