Jamkrindo dan Salarea Foundation Menyiapkan Program Rumah Semai

  1. Beranda /
  2. Kabar /
  3. Daerah /
  4. Minggu, 29 Agustus 2021 - 23:11 WIB

Persiapan rintisan Rumah Semai Salarea di lokasi Rumah Sampah MPL Loji/SMA PGRI Cibatu
Persiapan rintisan Rumah Semai Salarea di lokasi Rumah Sampah MPL Loji
Foto: SMA PGRI Cibatu

Direktur Utama PT Jamkrindo, Putrama Wahju Setyawan mengatakan, pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Garut merupakan program creating share value dari Jamkrindo untuk mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan, merangsang penciptaan lapangan pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, serta komitmen perusahaan dalam merespon problem lingkungan dan penanggulangan bencana.

TOKOHKITA. Kebutuhan bibit berkualitas menjadi salah satu perhatian PT Jamkrindo dan Yayasan Kelompok Kerja Salarea (Salarea Foundation) dalam mewujudkan ketahanan pangan masyarakat perdesaan di tengah situasi krisis pandemi virus corona (Covid-19).

Untuk itu, Salarea Foundation menginisiasi rintisan rumah semai di Cibatu, Garut, Jawa Barat. Tim dari Jamkrindo berkesempatan meninjau aktivitas persiapan pembuatan rumah semai, yang merupakan salah satu kegiatan pemberdayaan masyarakat berbasis komunitas pada Sabtu-Minggu (28-29/8/2021). Adapun rumah semai tersebut berada di lokasi Rumah Sampah MPL Loji/SMA PGRI Cibatu, yang diinisiasi Jamkrindo bersama Salarea Foundation.  

Nantinya, rumah semai ini berfungsi untuk pembibitan stroberi, kopi, dan tanaman konservasi, yakni kelapa dan bambu, terkait kebutuhan program rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS) di wilayah Garut, yang sebagian kondisinya kritis. Dengan penanaman kelapa dan bambu diharapkan bisa mencegah terjadinya erosi di sekitar DAS. Perlu diketahui, sebagian wilayah di Garut mulai terancam bencana banjir. Tapi sebaliknya, di saat musim kemarau sebagian daerah terutama di Garut Utara, langganan krisis air bersih saban tahun. 

Direktur Utama PT Jamkrindo, Putrama Wahju Setyawan mengatakan, pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Garut merupakan program creating share value dari Jamkrindo untuk mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan, merangsang penciptaan lapangan pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, serta komitmen perusahaan dalam merespon problem lingkungan dan penanggulangan bencana.

"Kami terus mendukung upaya-upaya dari kelompok masyarakat di program pemberdayaan, penguatan ekonomi, dan pelestarian lingkungan. Upaya pemberdayaan masyarakat di Garut merupakan program creating share value dari Jamkrindo untuk mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan," katanya.

Menurut Putrama, Jamkrindo bersama Salarea Foundation tengah menjalankan program kemitraan seperti penguatan kapasitas petani kopi lewat pelatihan-pelatihan, pengadaan demplot kopi, dan bantuan peralatan pengolahan kopi untuk menunjang aktivitas Pawon Kopi Salarea, dalam penguatan SDM, peningkatan kualitas dan brand Kopi Dukuh Sadakeling. "Di aspek lingkungan, Jamkrindo telah memfasilitasi bantuan mesin cacah plastik dan pembangunan rumah sampah yang berperan dalam pengelolaan sampah plastik berbasis pemberdayaan dan komunitas," sebut dia.

Dalam kunjungannya, tim dari Jamkrindo melihat aktivitas relawan Masyarakat Peduli Lingkungan (MPL) dan rumah sampah di Loji, Desa Keresek, Kecamatan Cibatu; MPL Pasir Waru, Desa Pasir Waru, Kecamatan Limbangan, dan MPL Kampung Warung, Kecamatan Sukawening. Kegiatan dari MPL dan  rumah sampah ini antara lain mengumpulkan dan memilah sampah plastik, pengolahan sampah plastik, pembuatan paving block dari limbah plastik, serta pembuatan kerajinan dari bungkus kopi instan.

Tim Jamkrindo juga berkesempatan melihat relawan MPL belajar membuat media tanam di polybag untuk budidaya stroberi di rintisan Rumah Semai Salarea. "Tahap awal yang akan dikembangkan di rumah semai adalah stroberi. Kebetulan di komunitas MPL ada anggota yang tanam stroberi, yaitu Pak Kris [Krisuwanto Basuki]. Nantinya, Pak Kris ini menjadi pendamping dan mengajari para relawan MPL budidaya stroberi," ujar Pendiri Salarea Foundation, Dadan M Ramdan.

Kris berharap, warga di lingkungan Loji bisa secara mandiri menanam stroberi dengan memanfaatkan  pekarangan rumah lewat media pot atau polybag. "Kami ingin menghijaukan lingkungan warga dengan buah stroberi. Setelah saya coba tanam, cocok juga di Cibatu," tuturnya. 

Hal senada diutarakan Asep, Wakil Kepala Sekolah SMA PGRI Cibatu. "Kami sangat mengapresiasi kehadiran rumah sampah dan rencana pembuatan rumah semai di sekitar lingkungan sekolah. Ini bentuk kolaborasi yang apik antara pihak swasta, lembaga penggiat lingkungan, masyarakat dan warga sekolah dalam pemberdayaan dan program peduli lingkungan. Rumah sampah dan rumah semai akan menjadi bagian kegiatan ekstrakurikuler di sekolah kami," ujarnya.

Menurut Dadan, rumah semai juga dipersiapkan untuk tempat pembibitan kopi berhubung banyak petani yang membutuhkan bibit kopi berkualitas guna meningkatkan produktivitas. Kemudian, rumah semai juga berperan dalam pembibitan tanaman konservasi bagi program rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS) di Garut, sekaligus memproduksi pupuk kompos atau organik dengan memberdayakan relawan MPL dan rumah sampah. 

Sedangkan tanaman yang dipilih untuk konservasi ini adalah kelapa dan bambu, dengan pertimbangan selain punya nilai ekonomis juga akarnya baik untuk menahan erosi. "Agar rumah semai ini bisa menjalankan fungsinya dan memberikan insentif bagi relawan MPL dan rumah sampah dari produksi bibit, kami mengharapkan dukungan dari para stakeholder baik swasta maupun pemerintah dalam pengembangannya," harap Dadan.   

Sejatinya, di samping kendala permodalan dan pupuk, petani juga masih kesulitan mendapatkan bibit berkualitas karena terbatas. "Kami tentu senang kalau ada pihak-pihak yang bisa membantu petani mendapatkan bibit unggul, khususnya kopi. Harapannya, dengan bibit yang bagus tentu produktivitas hasil panen pun bisa meningkat," sebut Wawan, petani asal Kampung Dukuh, Desa Karyamukti, Kecamatan Cibatu.  

Mengenai pengembangan bank sampah, Rismanto, pengelola Rumah Sampah Salarea bilang, pihaknya masih membutuhkan fasilitasi untuk pelatihan manajemen bank sampah dan peningkatan kapasitas. "Rumah sampah mulai beroperasi dengan kapasitas produksi 50 kilogram per hari. Mudah-mudahan keberadaan rumah sampah ini menjadi solusi atas persoalan sampah liar, mendatangkan berkah bagi masyarakat, dan inspirasi bagi gerakan peduli lingkungan," terangnya.

Mulyana, Pengelola Rumah Sampah MPL Pasir Waru mengajak perusahaan swasta lainnya untuk membantu kelompok-kelompok masyarakat yang bergerak di pemberdayaan dan pendampingan, khususnya di wilayah perdesaan dan masyarakat pinggiran. "Kontribusi pihak perusahaan swasta dan BUMN sangat penting untuk memajukan ekonomi desa. Makanya, langkah positif dari Jamkrindo melakukan pemberdayaan di Garut yang bekelanjutan bisa diikuti oleh perusahaan lainnya," harap dia.

Editor: Tokohkita


TERPOPULER