Seorang Profesor yang Bertekad Sejahterakan Nelayan

  1. Beranda /
  2. Kabar /
  3. Nasional /
  4. Rabu, 16 Oktober 2019 - 15:28 WIB

Potret kemiskinan nelayan/Istimewa
Potret kemiskinan nelayan
Foto: Istimewa

Indonesia sebagai negara maritim, ujar profesor ini, seharusnya melalui kekayaan laut yang melimpah bisa menyentuh nelayan dan pengusaha kecil masyarakat pesisir memperoleh kesejahteraan kehidupan berumah tangganya. "Pertanyaannya, kenapa belum juga mampu meningkatkan kesejahteraan nelayan, Prof?", tanya Teddy dalam kesempatan itu.

TOKOHKITA. Belakangan ini waktu tinggal menghitung hari saja, dan setelah pelantikan Ir. H. Joko Widodo (Jokowi) resmi menjadi presiden untuk periode keduanya masa bakti 2019-2024. Atas hak prerogatif Presiden Jokowi, pastinya akan segera diumumkan susunan Kabinet Indonesia Kerja Jilid II.

Pemerhati Nelayan Teddy Syamsuri kemudian mengingatkan ada aspirasi dukungan Assosiasi Nelayan dan Petambak Pantura, ada harapan Tokoh Nelayan Rembang, juga pencermatan dari direktur CORE Indonesia. Menyusul, pengajuan Assosiasi Bupati/Walikota Daerah Pesisir, dan ada rekomendasi usulan Poros Benhil yang merupakan salah satu elemen relawan pendukung Jokowi-Ma'ruf Amin. Itu semuanya membicarakan tentang sosok seorang profesor yang dianggap tepat jika dipercaya untuk menjadi pembantu presiden dalam hal untuk mengurusi sektor kelautan dan perikanan, terutama guna mengangkat harkat, derajat, dan martabat nelayan.

Sosok seorang profesor itu adalah asli anak nelayan dari kampung nelayan Desa Gebangmekar, Cirebon timur. Anak nelayan yang secara linier meniti pendidikan sampai dengan mencapai disiplin ilmu S3 (Ph.D) di School for Resources and Environmental Studies Dalhouse University Halifax, Nova Scotia, Canada tahun 1991. Sejak 1997 Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut, sampai saat ini masih menjabat Ketua Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Sekolah Pasca Sarjana IPB.

Pada 2012, sosok profesor ini dianugerahi sebagai Duta Besar Kehormatan (Honorary Ambassador) Jeju Island Korea, dan 2018 dianugerahi Duta Besar Kehormatan di Busan Metropolitan Korea. Sebelumnya, tahun 2017, diangkat sebagai Profesor Kehormatan di Mokho National University Korea bidang Sustainable Maritime Development. Baru-baru ini, 11 Oktober 2019 yang lalu, professor ini dianugerahi sebagai Bapak Persahabatan Indonesia-Korea oleh Duta Besar Korea untuk Indonesia Kim Chang-beom, oleh sebab sejak 1995 telah memberikan kontribusi cukup signifikan.

Sebelumnya, 8 Oktober 2019, profesor ini diundang dalam rapat Kamar Dagang dan Perindustrian (Kadin) bidang Kelautan dan Perikanan (KP). Di rapat Kadin tersebut, profesor ini menjadi narasumber utamanya. Teddy pun mengutip paparan profesor di rapat Kadin tersebut. Ditegaskan jika sektor kelautan dan perikanan dikelola dengan baik dan benar, maka akan mampu menjawab tantangan penciptaan lapangan kerja, peningkatan kesejahteraan masyarakat, penekanan kesenjangan masyarakat, dan pencapaian target pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa menyentuh angka 7% per tahun.

Namun menurut Ketua Umum Lintasan '66 dan Sekretaris Dewan Pembina Seknas Jokowi DKI, paparan tersebut diyakini bisa terlaksanakan apabila menteri pembantu Jokowi di periode lima tahun ke depan harus bersosok yang kapabel, integritas, profesional dan komprehensif dalam bekerjanya.

Pasalnya hemat Koordinator Forum Marikultur Nasional (FMN) Muhibbudin Koto, dinyatakan volume ekspor perikanan pada tahun 2014 sekitar 1,2 juta ton, tapi sejak 2015 sampai sekarang menurun dan masih dibawah 1 juta ton. Sementara pelaku usaha perikanan yang didengar hanya keluhan padahal pencuri ikan asing sudah berkurang, tapi kinerja nelayan, pembudidaya dan industri perikanan semuanya merasakan anjlok, malah banyak yang sudah tutup usaha.

Begitu pula apa kata Ketua Assosiasi Budidaya Ikan Laut Indonesia (Abilindo) Wajan Sudja. Katanya disayangkan, jika orang awam non-perikanan banyak yang tidak paham. Yang orang awam tahu hanya penenggelaman kapal illegal fishing yang dikerjakan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan (Menteri KP) Susi Pudjiastuti, yang menjadi media darling. Tapi dibalik itu sarat propaganda, tanpa Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berkemampuan mengentaskan kubangan kemiskinan hidup nelayan.

Wajan bilang, Kota Bitung, Tual dan Sorong yang awalnya merupakan pusat industri pengolahan perikanan, sekarang menjadi tidak lagi menjadi wilayah pengekspor produk-produk perikanan Indonesia. Ketiga kota tersebut sekarang ini disebut Ketua Abilindo menjadi kota mati.

Pada saat mempersiapkan agenda Kampanye Akbar Calon Presiden Jokowi di Cirebon awal April 2019, pihaknya sempat berdialog singkat dengan profesor ini di sebuah kedai kopi, sambil menunggu keberangkatan KA Gunung Jati Ekspres ke jurusan Stasiun Kejaksan Cirebon di Stasiun Gambir Jakarta Pusat.

Indonesia sebagai negara maritim, ujar profesor ini, seharusnya melalui kekayaan laut yang melimpah bisa menyentuh nelayan dan pengusaha kecil masyarakat pesisir memperoleh kesejahteraan kehidupan berumah tangganya. "Pertanyaannya, kenapa belum juga mampu meningkatkan kesejahteraan nelayan, Prof?", tanya Teddy dalam kesempatan itu.

"Negara yang sudah hadir sejak pemerintahan Presiden Jokowi dengan visi Poros Maritim Dunia, sayangnya pembantu presiden untuk mengurusinya belum optimal dan maksimal mengelola sektor kelautan dan perikanan yang potensial ini", jawab sang profesor.

Teddy lantas mempertanyakan solusinya bagaimana? Dan, profesor bilang, bahwa dirinya sebagai anak nelayan yang terus menerus menekuni disiplin ilmu kelautan dan perikanan, mengakui merasa 'berdosa' jika masih melihat nasib kaum nelayan masih nelangsa dan menderita.

Tapi sahut Teddy, secara ekonomi bukankah sang profesor cukup mapan. Kembali beliau katakan, "Yah. Tapi saya ini berasal dari anak nelayan. Sedih rasanya jika kaum nelayan masih terbelit kemiskinan. Saya baru merasa senang jika kaum nelayan bisa hidup sejahtera,", tutur sang profesor lirih.

Tak pelak, Teddy pun terdiam, merenung, menerawang ucapan Presiden Jokowi saat pidato di Sentul di depan ribuan relawan. Presiden Jokowi butuh pembantunya tentu yang bisa mendatangkan investasi, menciptakan sumber daya manusia (SDM) unggul, melakukan reformasi birokrasi, dan berani mengeksekusi atas kebijakan yang segaris dengan visi Presiden Jokowi untuk Indonesia Maju yang Berkeadilan Sosial.

Berhubung, KA Gunung Jati Ekspress diumumkan akan segera berangkat, Teddy yang ikut dalam persiapan Kampanye Akbar Capres Jokowi di Kampung Nelayan Desa Gebangmekar, Cirebon Timur, bersama sang profesor serta ajudannya, kemudian memasuki gerbong kelas bisnis.

Saat itu, sang profesor ditugaskan oleh Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, untuk menjadi penanggungjawab acara kampanye Jokowi di Cirebon dibawah koordinasi Tim Kampanye Daerah (TKD) Jawa Barat.

"Semoga saja sang profesor atas seizin dan ridho Allah SWT, Tuhan YME, yang konon namanya, jika benar, sudah ada pada list susunan Kabinet Indonesia Kerja Jilid kedua, malah tertulis di dua nomenklatur ini, benar-benar terkabulkan. Saya, keluarga dan kaum nelayan seluruh tanah-air senantiasa mendo'akannya. Aamiin Ya Robal Alamin," harap Teddy.

Editor: Tokohkita

TERKAIT