Pradi Supriatna, Wakil Walikota Depok

Smart City, Solusi Depok Menuju Kota Metropolis yang Nyaman

  1. Beranda /
  2. Kabar /
  3. Daerah /
  4. Rabu, 21 Agustus 2019 - 18:11 WIB

Depok sedang mencari jadi diri terkait dengan terobosan-terobosan dan inovasi yang bisa menjawab persoalan di kota belimbing ini.

TOKOHKITA. Gerakan Menuju 100 Smart City tahun 2019 resmi bergulir. Gerakan Menuju 100 Smart City yang digagas oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika ini adalah sebuah inisiatif untuk membimbing kota/kabupaten dalam menyusun rencana induk (masterplan) smart city. Harapannya, rencana induk ini akan menjadi pegangan pemerintah daerah dalam mewujudkan smart city di daerah masing-masing.

Tahun ini, terdapat 25 kota dan kabupaten yang terpilih untuk mengembangkan konsep smart city. Ke 25 kota/kabupaten itu terpilih setelah mengikuti proses penilaian (assessment) yang berlangsung pada awal Maret 2019. Proses penilaian diawali dengan mengundang 107 kota/kabupaten. Kemudian, setiap daerah dinilai kesiapan mewujudkan smart city, baik dari sisi kesiapan infrastruktur, suprastruktur, dan visi pemimpin daerah. Proses penilaian sendiri dilakukan praktisi dan akademisi yang selama ini terlibat di Gerakan Menuju 100 Smart City.

Ke-25 kota/kabupaten terpilih ini melengkapi 75 kota/kabupaten yang telah terpilih di tahun 2017 dan 2018, sehingga total ada 100 kota/kabupaten yang telah mengikuti Gerakan Menuju 100 Smart City ini. Nah, dari 25 kota dan kabupaten tersebut, Kota Depok satu diantaranya yang serius mewujudkan smart city.

Untuk menjawab harapan terwujudnya Depok sebagai kota cerdas, Pemerintah Kota Depok terus melakukan persiapan selain membentuk tim khusus smart city. Pun Wakil Walikota Depok Pradi Supriatna memperlihatkan keseriusan dan komitmen Kota Depok dalam mengimplementasikan smart city. Salah satunya melakukan penjajakan kerjasama dengan SAP, perusahaan perangkat lunak asal Jerman, yang menyediakan solusi teknologi smart city di sejumlah negara.
 
"Saya senang sekali mendapat undangan dari SAP. Ini penting karena kami tengah berupaya menerapkan smart city untuk menjawab persoalan-persoalan yang ada di Kota Depok," kata Bang Pradi, sapaan akrab Wakil Walikota Depok ini ketika berkunjung ke Kantor SAP di Jakarta, Rabu (21/8/2019).

Pradi menjelaskan, pihaknya perlu memahami lebih lanjut tentang smart city dari SAP ini karena beberapa alasan. Pertama, Depok sedang mencari jadi diri terkait dengan terobosan-terobosan dan  inovasi yang bisa menjawab persoalan di kota belimbing ini. "Ini terkait upaya peningkatan kepuasan publik dan kepecayaan masyarakat terhadap Pemkot Depok. Juga penting sekali ketika kami ingin mejadi kota metropolis yang aman dan nyaman bagi semua warga penduduknya," sebutnya.

Kedua, setelah banyak mendapat informasi tentang smart city dari paparan SAP, Pradi mengaku penasaran dengan keberadaan SAP sebagai perusahaan penyedia solusi teknologi. "Setelah kami searcing apa itu SAP, ternyata sudah banyak negara yang menggunakan aplikasi SAP," ungkap dia.

Ke depan, seiring dengan hal tersebut, termasuk diskusi mendalam antara pihak SAP dengan Bapeda, Diskominfo, dan tim smart city Kota Depok, Pradi berharap, terjalin kerjasama yang bisa segera dilaksanakan atau hal lainnya perlu dikaji lagi lebih lanjut. "Tidak hanya wacana, tapi aksi nyata terkait implementasi smart branding, smart economy, smart society sampai smart governance. Kami ingin ada bentuk kerjasama [dengan SAP]," ungkap Pradi.

Asal tahu saja, salah satu kota yang telah bermitra dengan SAP adalah DKI Jakarta, khusunya untuk sektor transportasi yakni aplikasi Trafi, teknologi transportasi pada moda Transjakarta. Trafi  bisa memantau jenis dan posisi bus dari setiap koridor yang beroperasi.
 
Pihak SAP menyebutkan, implementasi teknologi untuk transportasi kota bisa lebih dari itu. Mereka memberi contoh kerjasama dengan penyedia moda transportasi Jepang Keifuku Bus. Target utama dari teknologi transportasi ini adalah untuk mengurangi risiko kecelakaan. Adapun penerapan IoT dimulai dari pemasangan sensor di berbagai sisi kendaraan dan pengemudi. Perusahaan bisa pantau kesehatan pengemudi dan kesiapan bus untuk menentukan apakah mereka layak beroperasi.

Editor: Tokohkita

TERKAIT