William Susilo Yunior, Pendiri Gradana

Pertumbuhan Gradana di Atas 100% Per Tahun

  1. Beranda /
  2. Perspektif /
  3. Selasa, 16 Juli 2019 - 07:58 WIB

William Susilo Yunior/Tokohkita
William Susilo Yunior
Foto: Tokohkita

Sebagai platform layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi (P2P Lending), Gradana telah terdaftar di OJK, Kominfo serta merupakan anggota AFPI dan Aftech selaku asosiasi yang membawahi P2P Lending dan Tekfin.

TOKOHKITA. Pembiayaan kepemilikan residensial saat ini tidak lagi mengandalkan institusi perbankan, melainkan juga Gradana. Gradana merupakan perusahaan startup proptech dan fintech yang fokus pada pembiayaan properti dan real estate. Sebagai platform layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi (P2P Lending), Gradana telah terdaftar di OJK, Kominfo serta merupakan anggota AFPI dan Aftech selaku asosiasi yang membawahi P2P Lending dan Tekfin.

Platform tersebut sekarang sudah bisa dimanfaatkan untuk membeli properti dengan DP dicicil, sehingga meringankan calon-calon pembeli, sehingga menjadikan startup ini sebagai penyedia KPR digital pertama di Asia Tenggara. Gradana menawarkan pembiayaan untuk cicil DP rumah untuk primary market (GraDP), pembelian unit di secondary market dengan DP dan biaya BPHTB bisa dicicil (GraStrata). Kemudian, cicilan sewa properti bulanan, biasanya landlord minta sewa dibayar satu tahun dimuka (GraSewa), pembiayaan renovasi tanpa jaminan asset, pembiayaan SPK atau invoice untuk vendor-vendor  properti, seperti arsitek, interior design, supplier material, dan lainnya.

Nah, lebih jauh mengenai apa itu Gradana, bagaimana model bisnisnya dan apa keunggulannya, berikut nukilan wawancara Tokohkita dengan William Susilo Yunior, Pendiri Gradana:

Bagaimana proyeksi pasar properti di semester II 2019?

Overall, saya lihat semester dua ini pastinya sentimen lebih optimistis untuk beli properti. Tapi saya hypothetically lihat justru di secondary market, bukan primary market.

Artinya?

Pasar properti Indonesia mayoritas masih lebih besar untuk rumah tangan kedua ketimbang produk baru dari developer. Nah selain itu, kalau definisi propertinya kita lebarin ke komersial dan sewa, sebenernya growth untuk rental market bisa naik lebih cepat juga buat sisa tahun 2019 ini.

Apakah tren optimistis pasar property ini juga tergambar dari kinerja P2P lending?

Kalo dari sisi Gradana tergambar dari growth sangat beda dari bank. Di bank mungkin belasan persen pertumbuhan per tahun itu sudah tergolong signifikan. Kami di Gradana, setiap tahun bertumbuh di atas 100%.

Untuk target Gradana tahun ini, bisa dijelaskan?

Tahun ini kita targetkan penyaluran dana di atas Rp 200 miliar dan tahun 2020 di atas Rp 500 miliar. Dari angka itu, sebesar 75% akan di pembiayaan pembelian. Sisanya, di pembiayaan sewa. Untuk segmen pembelian sendiri sebesar 50% di primary market dan sebesar 50% di secondary market.

Boleh dirinci selama ini karakter investor dan nasabah Gradana seperti apa?

Investor ada yang individual, ada yang institusi. Untuk institusi ada yang lokal dan asing. Orang pilih Gradana karena produknya jelas yaitu properti, bisa dijadikan jaminan. P2P lending yang lain kebanyakan tidak ada jaminan asset. Dari sisi yield, di Gradana sifatnya fix, bisa dua kali lebih dari bunga deposito dan ada proteksi penjaminan dari asuransi.

Ada penjaminan asset, bisa dijelaskan?

Untuk rumah tangan kedua atau secondary market, rumah yang dibiayai kita taruh hak tanggungan (APHT) dan jadi jaminannya adalah rumah itu sendiri. Sementara untuk rumah baru dari developer (primary market), Gradana memberlakukan buyback guarantee dari developer sebagai jaminan.

Apakah pekerja muda yang ingin punya rumah tapi belum ada jaminan asset lainnya?

Kita ada juga perrsonal guarantor, biasa keluarga inti yang masih usia produktif, seandainya ada batuk-batuk selama cicilan, guarantor akan lanjutkan sisa pembayaran. 

Bagaimana dengan potensi kredit macet?

Kita di Gradana angka kredit bermasalah atau non performing loan (NPL)  masih 0% karena kita punya credit scoring technology dan kriteria yang prudent. Kita ada lakukan credit checking, lalu verifikasi keuangan mirip bank, dan punya algoritma sendiri untuk memprediksi performa pembayaran. 

Dari sisi investasi, apa yang menarik bagi investor produk Gradana ini?

Dari sisi yield tadi, kita bisa offer sampai dua kali bunga deposito, atau di atas 11% per tahun.  

Dari sisi keamaannya bagaimana, sebab banyak modus penipuan berkedok investasi?

Bisa dibilang aman karena ada jaminan sertifikat rumah (untuk pembiayaan properti) dan buyback guarantee juga dari developer (untuk primary market) in addition to the personal guarantor. Jadi proteksi kredit via Gradana mitigasi risikonya berlapis, mulai dari personal guarantor, buyback guarantee dari developer, sampai proteksi asuransi gagal bayar. Nah, combining good yield with default protection yang akhirnya bikin Gradana appealing buat investor (lenders) 

Sebagai pelaku di industry properrti, apa harapan Gradana?

Harapannya adalah untuk segera diintegrasikan histori data kredit nasabah antara bank dan P2P lending di Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) supaya mencegah NPL meledak. Sejak 1 Januari 2018, layanan Sistem Informasi Debitur (SID), yang biasa dikenal sebagai BI Checking, beralih, yang awalnya dikelola Bank Indonesia (BI) kini dikelola Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Peralihan ini berkaitan dengan mulai diaplikasikannya SLIK. 

Apakah dengan implementasi SLIK ini NPL bisa ditekan?

Adanya SLIK yang menggantikan SID atau BI Checking bertujuan untuk memperluas akses terhadap Informasi Debitur Individual (IDI) Historis. Semula akses terhadap IDI Historis atau BI Checking terbatas pada lembaga keuangan bank dan lembaga pembiayaan (finance). Dengan adanya SLIK, tidak hanya bank dan lembaga pembiayaan yang punya akses, kini lembaga keuangan keuangan nonbank punya akses ke IDI Historis dan kewajiban melaporkan data debitur ke SID. Angka NPL diharapkan bisa diminimalkan dengan diterapkannya SLIK. 

Tapi hingga saat ini, SLIK belum juga terintegrasi dengan histori data kredit nasabah antara bank dan P2P lending. Apalah karena P2P lending banyak yang belum lapor ke OJK?

Bukan gak lapor, Tapi karena infrastrukturnya sedang disiapkan oleh regulator. OJK sudah ada pergerakan untuk menginisiasi integrasi sistem ini bersama BI. 

Untuk produk produk layanan Gradana mencakup apa saja?

Kami menyediakan pembiayaan untuk cicil DP rumah untuk primary market (GraDP), pembelian unit di secondary market dengan DP dan biaya BPHTB bisa dicicil (GraStrata). Kemudian, cicilan sewa properti bulanan, biasanya landlord minta sewa dibayar satu tahun dimuka (GraSewa), pembiayaan renovasi tanpa jaminan asset, pembiayaan SPK atau invoice untuk vendor-vendor  properti, seperti arsitek, interior design, supplier material, dan lainnya. 

Rencana bisnis ke depan, apa akan merilis produk baru?

Nah, ke depan,  GraStrata akan kita gencarkan karena baru launched bulan ini. 

Terakhir, boleh berbagi tip investasi di sektor properti?

Pertama, kalau mau beli rumah second, baiknya cek status sertifikat apakah sudah pecah SHM atau masih PPJB dengan developer. Kalau masih PPJB, akan relatif sulit dapat fasilitas KPR. Kedua, saat beli rumah dari developer, cek track record durasi pecah sertifikat, biasa makan waktu 3-5 tahunan, tapi yang riskan adalah kalau lama pecahnya. Ini enggak selalu karena proses lama di BPN, tapi bisa jadi karena sertifikat induknya diagunkan untuk kredit konstruksi atau utang lainnya oleh si developer. Ketiga, beli rumah bijaknya yang berharga 35-50 kali gaji bulanan, supaya peluang masuk plafon KPR atau KPP-nya gak pas-pasan.

Keempat, kalau mau beli properti dan mau cicil ke bank atau Gradana, harus aware dengan biaya-biaya yang perlu dibayar, seperti BPHTB, asuransi, dan appraisal (kasus secondary market). Itu totalnya bisa material, sekitar 6,5%-7.5% nilai properti itu sendiri. Jadi mesti siap bayarkan biaya tersebut. Tapi di Gradana untungnya biaya-biaya itu bisa ikut dicicil. Kelima, spekulasi untuk investasi di properti udah lewat masanya, mending via investasi alternatif seperti di Gradana yang bikin properti more investable and affordable. Tingkat keuntungan (yield) sudah pasti, dan pembeli sudah ready. Jadi enggak spekulatif.

Editor: Tokohkita

TERKAIT