Dara Adinda Kesuma Nasution

Ketika Anak Milenial Terjun ke Politik

  1. Beranda /
  2. Parlemen Kita /
  3. Sabtu, 27 Oktober 2018 - 22:48 WIB

Dara Adinda Kesuma Nasution (24), salah satu anak muda yang terjun ke politik/Istimewa
Dara Adinda Kesuma Nasution (24), salah satu anak muda yang terjun ke politik
Foto: Istimewa

Anak muda berpolitik kebanyakan didorong dari keresahan melihat keadaan sekitarnya hingga timbul keinginan untuk memperbaiki. Maka masuklah mereka ke partai politik. Parpol yang dulu “kaku” kini mulai terlihat dinamis dengan anak-anak muda di dalamnya.

TOKOHKITA. Zaman sekarang politik bukan lagi dunianya para orang tua. Banyak anak muda yang melek teknologi mulai terjun ke politik dengan berbagai alasan dan motivasi. Mereka memberi energi baru pada demokrasi.

Anak muda berpolitik kebanyakan didorong dari keresahan melihat keadaan sekitarnya hingga timbul keinginan untuk memperbaiki. Maka masuklah mereka ke partai politik. Parpol yang dulu “kaku” kini mulai terlihat dinamis dengan anak-anak muda di dalamnya.

“Politik bagi anak muda sebuah pertanggungjawaban moril, jadi tidak hanya mengkritisi dari luar sistem, kritisi dari sosmed, tapi bagaimana anak muda punya tanggung jawab perbaiki bangsa ini dengan masuk politik” kata Ketua Umum Pemuda Perindo, Effendi Syahputra.

“Parpol menjadi alat dalam membentuk kebijakan di negeri ini. Jadi memang mau tidak mau suka tidak suka, keterlibatan anak muda yang cenderung idealis sangat dibutuhkan di dunia politik,” tukas Effendi yang kini maju sebagai calon anggota DPR RI dapil DKI Jakarta dari Partai Perindo.

Jika lolos ke parlemen, Effendi berjanji ingin memperjuangkan berbagai regulasi yang berpihak ke rakyat, karena selama ini menurutnya banyak aturan dibuat justru hanya menguntungkan koorporasi dan asing.

“Contoh seperti Undang-Undang Nelayan, ini kan masih banyak yang belum berpihak kepada nelayan kecil. Kemudian sektor pertanian juga kita pengen ada ketahanan pangan yang tentunya ada aturan regulasi-regulasi, impor itu harus dibatasi.”

Menurut Effendi, sekarang eranya politik anak muda. “Kita lihat Presiden Prancis umurnya 39 tahun, Perdana Menteri Kanada 36 tahun, kalau kita lihat parlemen Jerman juga diisi anak-anak milenial. Saya pikir ini anak muda,” ujar dia.

Zikrullah Ibna sependapat. Politikus muda Partai Golkar itu mengatakan, sebagai calon pemimpin masa depan, generasi muda perlu terlibat langsung dalam politik sejak dini. “Karena politik itu adalah sebuah pekerjaan mulia untuk memperbaiki segala tatanan pada kebaikan,” ujarnya.

Berbekal pengalaman mengurus sejumlah organisasi mahasiswa dan kepemudaan serta keresahannya melihat pembangunan yang belum merata, Zikrullah kini mantap maju jadi caleg DPRD Kota Depok dapil II meliputi Beji, Cinere dan Limo.

Lalu, apa yang diperjuangkan di parlemen kelak? “Saya akan lebih fokus pada persoalan-persoalan kepemudaan. Kemudian pelayanan kesehatan yang harus lebih ditingkatkan kepada warga yang kurang mampu,” tukas pengurus sebuah rumah sakit swasta di Depok ini.

Zikrullah juga melihat kemiskinan salah satu faktor yang harus dituntaskan dengan program-program yang menyentuh langsung masyarakat. Menurutnya di sini butuh peran penting anak muda untuk mengawal langsung dari DPRD.

Dara Adinda Kesuma Nasution juga serupa. Perempuan 24 tahun ini terjun ke politik karena resah dengan korupsi yang masih membudaya di pemerintahan sehingga menghambat kesejahteraan rakyat.“Saya merasa terpanggil untuk melakukan sesuatu. Caranya dengan berpolitik dan maju sebagai caleg,” ujar caleg dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dapil III Sumatera Utara itu.

Dara mengaku ingin memperjuangkan pemerataan akses dan peningkatan kualitas pendidikan di Sumut jika lolos ke parlemen. Kemudian mendorong sistem antikorupsi. “Selama ini korupsi menjadi akar kemiskinan kita.”

Menurutnya anak muda penting berpolitik, karena mayoritas pemilih di Indonesia kini berusia muda.“Anak muda punya kekuatan signifikan untuk menentukan siapa wakil-wakilnya di DPR nanti. Anak muda harus sadar bahwa kita kurang terwakili di parlemen. 2019 adalah momentum di mana kita bisa benar-benar memilih wakil yang muda yang betul-betul paham kebutuhan anak-anak muda,” tukasnya.

Kehadiran legislator muda yang energik dan fresh di parlemen, menurutnya, bisi jadi antitesis dari politik lama yang bobrok untuk perubahan. Caleg muda Partai Amanat Nasional (PAN), Faldo Maldini menilai kehadiran anak muda di parlemen menjadi alternatif untuk perubahan.

Mantan Presiden Mahasiswa di Universitas Indonesia (UI) menilai anak muda kini lebih mudah menyerap aspirasi di masyarakat karena intens berinteraksi di media sosial, sehingga mereka lebih memahami apa yang harus dilakukan untuk mewujudkan perubahan sesuai harapan masyarakat dan zaman."Anak muda di politik adalah babat alas,” ujarnya.

Sumber: Okezone

Editor: Admin