Ekonomi

Tekanan utama rupiah masih dari faktor eksternal

  1. Beranda /
  2. Kabar /
  3. Daerah /
  4. Rabu, 24 Oktober 2018 - 16:28 WIB

Pelemahan rupiah masih berlanjut/Istimewa
Pelemahan rupiah masih berlanjut
Foto: Istimewa

Usai keputusan rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan BI-7 Day RR di level 5,75%, para ekonom tak melihat pengaruhnya terhadap pergerakan rupiah.

TOKOHKITA. Usai keputusan rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan BI-7 Day RR di level 5,75%, para ekonom tak melihat pengaruhnya terhadap pergerakan rupiah.

Eric Sugandi, ekonom Asian Development Bank Institute, mengatakan tantangan terhadap rupiah pada tahun ini hingga 2019 masih berdasar faktor eksternal meskipun ada pengaruh domestik.

"Tekanan utama terhadap rupiah memang masih dari faktor eksternal," ungkap Eric, Rabu (24/10).

Adapun secara rinci tekanan tersebut karena great rotation. Saat ini merupakan masa panen laba bagi investor global dari emerging markets setelah investasi sejak 2008.

"Kinerja ekonomi AS yg baik memperkuat aliran outflows dari emerging markets dari Indonesia. Di Indonesia, outflows terbesar dari saham," jelasnya.

Selain itu normalisasi suku bunga Amerika Serikat (AS) menyusul pulihnya ekonomi AS pasca reses 2009. Sehingga para investor berbondong-bondong ke AS.

Resiko lainnya seperti sentien negatif pelaku pasar finansial global terhadap kondisi ekonomi emerging market yang menular, dan eskalasi perang dagang AS-China.

Selain itu kenaikan harga minyak dunia menyebabkan persepsi para pelaku pasar bahwa CAD Indonesia beresiko membesar sehingga mempengaruhi daya topang fundamen perekonomian Indonesia terhadap rupiah.

Sedangkan faktor domestik, Eric mengatakan pemasalahannya terletak pada transaksi neraca berjalan yang defisit, kepemilikan asing yang signifikan di saham dan SBN sehingga rupiah rentan terhadap outflows. Juga likuiditas valas yang mengetat dan terkonsentrasi di bank-bank besar.

"Banyak juga peruahaan yang tidak fully hedge fx exposures," jelas Eric.

Sampai FOMC meeting di 18-19 Desember 2018, rupiah dan mata uang emerging markets masih akan berada dalam tekanan. Ini karena para pelaku pasar finansial global menunggu realisasi kenaikan US FFR sampai akhir tahun. Namun tekanan ini sifatnya akan timbul tenggelam, tergantung persepsi dan sentimen pelaku pasar. 

Editor: Admin